“Ini momen simbolis bagi sektor properti di daratan China,” ujar Kenny Ng, analis di China Everbright Securities International. Kejatuhan drastis ini, lanjutnya, “pasti akan meninggalkan ingatan mendalam bagi seluruh investor.”
Krisis Evergrande menjadi yang terbesar dalam gejolak properti China yang telah menekan pertumbuhan ekonomi dan menjatuhkan rekor jumlah pengembang ke dalam kesulitan keuangan. Perusahaan ini pertama kali gagal membayar obligasi dolar pada Desember 2021, dan pada puncaknya di tahun 2017, pernah memiliki valuasi lebih dari US$50 miliar.
Meski pemerintah telah meluncurkan stimulus, penjualan properti tetap lesu tahun ini. UBS Group AG bahkan menunda proyeksi pemulihan pasar hingga pertengahan atau akhir 2026. Data China Real Estate Information Corp menunjukkan penjualan rumah baru oleh 100 pengembang terbesar turun lebih dari 20% selama dua bulan berturut-turut.
Seruan untuk dukungan kebijakan tambahan terhadap pasar perumahan pun kian nyaring. Namun, pada rapat bulan lalu, Politbiro Partai Komunis China tidak menambahkan stimulus properti setelah perekonomian domestik menunjukkan daya tahan menghadapi tarif AS.
Evergrande bukan satu-satunya yang tumbang. Pada Senin lalu, China South City Holdings Ltd diperintahkan untuk dilikuidasi oleh Pengadilan Tinggi Hong Kong setelah gagal mendapatkan dukungan kreditur atas rencana restrukturisasinya.
Sejak krisis properti meletus pada 2021, pengadilan Hong Kong telah mengeluarkan setidaknya enam perintah pembubaran untuk pengembang China. Proses likuidasi Evergrande menjadi yang paling rumit dan kini menjadi acuan bagi pengembang lain yang mengalami nasib serupa.
Total utang pengembang di China yang berada dalam kondisi tertekan mencapai sekitar US$150 miliar. Lebih buruk lagi, sejumlah perusahaan yang sudah mencapai tahap akhir restrukturisasi kini kembali ke titik awal. Sunac China Holdings Ltd bahkan menjadi pengembang besar pertama yang harus menjalani restrukturisasi utang untuk kedua kalinya.
Proses Panjang Likuidasi
Likuidasi Evergrande menjadi pekerjaan raksasa. Perusahaan ini memiliki 3.000 entitas hukum di berbagai yurisdiksi, serta sekitar 1.300 proyek yang sedang dibangun di lebih dari 280 kota, menurut tim likuidator. Mereka juga telah mengambil alih lebih dari 100 perusahaan terkait yang secara kolektif memiliki aset senilai HK$27 miliar.
Selain itu, terdapat 3.000 proyek di bawah unit manajemen properti Evergrande Property Services Group Ltd. Para kreditur sangat menyoroti penanganan unit ini karena “berpotensi menjadi sumber nilai yang sangat besar” dan kini mendapat “prioritas tertinggi” dalam perhatian likuidator.
Sejauh ini, realisasi aset Evergrande masih “terbatas” senilai US$255 juta, di mana sekitar US$167 juta telah dialirkan ke perusahaan induk. Namun, likuidator memperingatkan bahwa para pemangku kepentingan tidak bisa mengasumsikan seluruh dana tersebut akan tersedia, mengingat kompleksitas struktur kepemilikan.
Analisis sebelumnya dari Deloitte memperkirakan tingkat pemulihan bagi kreditur luar negeri yang tidak memiliki jaminan hanya sekitar 3,53%.
“Pengumuman delisting Evergrande bisa memberi tekanan tambahan pada saham pengembang China daratan yang masih diperdagangkan,” kata Ng. “Ini menjadi pelajaran bagi investor untuk lebih cermat memahami bisnis perusahaan saat laba tumbuh terlalu cepat, sekaligus mengantisipasi perubahan kebijakan.”
(bbn)































