Sejumlah saham–saham teknologi yang menjadi pendorong kenaikan IHSG ialah saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) yang melesat 19,9%, saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menguat 9,99%, dan saham PT Itsec Asia Tbk (CYBR) melejit 6,95% point–to–point.
Disusul oleh penguatan saham perindustrian, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) yang berhasil menguat 25%, saham PT Ace Oldfileds Tbk (KUAS) melesat 13,6%, dan saham PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) mencetak kenaikan 9,09%.
Senada dengan IHSG, saham LQ45 yang berisikan saham–saham unggulan ikut menguat, dan menetap di zona hijau, dengan kenaikan 16,57 poin dan menguat 2,07% ke posisi 816,16.
Saham–saham unggulan LQ45 yang bergerak pada teritori positif antara lain, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melesat 13,5%, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melejit 4,76%. Saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menguat 4,56%, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) meninggi 3,94%.
Sentimen hari ini datang dari tren inflow mulai kembali ke pasar keuangan Indonesia, tercermin dari pergerakan saham–saham perbankan besar yang menguat.
Nilai Perdagangan Saham: Perdagangan di pasar reguler di sepanjang Sesi I ini terpantau dengan nilai transaksi mencapai Rp10,34 triliun, lebih tinggi dari transaksi perdagangan kemarin.
“Dari nilai transaksi pada Sesi I didominasi oleh transaksi saham perbankan besar dan infrastruktur,” mengutip riset Panin Sekuritas, Selasa.
Senada, Mirae Asset Sekuritas juga menyebut saham–saham perbankan dan teknologi menopang IHSG, sejalan dengan meningkatnya saham BBCA, saham BBRI, saham DCII, dan saham MLPT.
Adapun mencermati Bursa Regional di Asia siang hari ini juga kompak bergerak menghijau. Indeks NIKKEI 225 menguat 2,25%, TOPIX melesat 1,44%, CSI 300 China melesat 0,62%, Shanghai Composite terapresiasi 0,57%, Shenzhen Comp. hijau 0,24%, dan FTSE Malaysia KLCI menguat 0,19%,
“Bursa Asia berlomba–lomba menghijau, pasca Presiden Donald Trump memperpanjang jeda kenaikan tarif impor asal China selama 90 hari ke depan,” papar Mirae Asset.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah perpanjangan gencatan hingga 10 November, menunda kenaikan tarif yang seharusnya berlaku Selasa ini.
De–eskalasi dimulai saat AS dan China sepakat mengurangi aksi saling balas kenaikan tarif dan melonggarkan pembatasan ekspor pada magnet tanah jarang serta sejumlah teknologi tertentu.
“Semua elemen lain dari kesepakatan akan tetap sama,” tulis Trump di Truth Social.
Tercapainya gencatan tarif antara Amerika Serikat dan China, memberi sentimen positif bagi pasar.
(fad)





























