Pemerintah Netanyahu pada Jumat lalu memberi izin untuk melancarkan serangan ke Kota Gaza, setelah perundingan gencatan senjata ketiga antara Israel dan Hamas menemui jalan buntu pada Juli. Sebelumnya, militer Israel menghindari wilayah itu karena khawatir nasib para sandera yang diyakini masih berada di sana. Sekitar 20 sandera diperkirakan masih hidup.
“Saya pikir kami menerapkan kekuatan secara bijaksana,” ujar Netanyahu dalam konferensi pers akhir pekan. “Mereka tahu apa yang akan dilakukan jika tepat di sebelah Melbourne atau Sydney terjadi serangan mengerikan seperti ini. Saya rasa kalian akan melakukan setidaknya seperti yang kami lakukan.”
Australia sebelumnya menegaskan bahwa Hamas tidak boleh terlibat dalam pemerintahan Palestina, serta keamanan Israel harus dijamin dalam upaya mencapai solusi dua negara.
Meski militer Israel belum mengerahkan pasukan tambahan untuk menyerbu Kota Gaza, rencana tersebut telah menuai kecaman dari berbagai pihak yang khawatir akan krisis kelaparan di Gaza. Krisis ini memburuk setelah Israel memutus bantuan antara Maret dan Mei dalam upaya melemahkan Hamas. Berbeda dengan banyak negara lain, AS justru menyatakan siap mendukung sekutunya di Timur Tengah itu.
Albanese dan Luxon mendesak Israel untuk membatalkan rencana operasi militer lebih lanjut “sebelum terlambat” dalam pernyataan bersama pada Sabtu. “Setiap rencana pemindahan paksa permanen terhadap warga Palestina harus ditinggalkan.”
Saat ini, Pasukan Pertahanan Israel menguasai sekitar 75% wilayah Gaza, memaksa ratusan ribu warga Palestina meninggalkan kota dan rumah mereka yang telah hancur.
(bbn)
































