Logo Bloomberg Technoz

Awal pekan ini, Trump mengerek tarif atas seluruh impor dari India sebagai sanksi atas pembelian minyak Rusia, bagian dari upaya menekan Moskow agar bersedia mengakhiri perang di Ukraina.

Langkah tersebut mendorong kilang milik negara India mengurangi pembelian dan mencari pasokan lain, membuka peluang sebagian kargo beralih ke China.

Adapun, China memiliki kapasitas kilang besar dan cadangan strategis minyak yang signifikan, dianggap sebagai pasar alternatif bagi Urals.

Kendati demikian, belum jelas apakah Beijing akan menyerap kelebihan pasokan tersebut di tengah tensi dagang dengan Washington.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent membuka kemungkinan pengenaan tarif terhadap China, jika negara itu tetap membeli energi dari Rusia.

Di tengah kondisi tersebut, kargo Urals ditawarkan ke pembeli China dengan premi serendah US$1,50 per barel terhadap Brent London, turun dari selisih sekitar US$2,50 akhir pekan lalu. Penjual termasuk pedagang terkait Rusia seperti Litasco.

Bulan lalu, kilang Shandong Yulong Petrochemical Co. membeli Urals dalam transaksi langka.

Pelaku pasar kini memantau apakah kilang swasta “teapot” dan BUMN energi China akan mengikuti, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk mengisi SPR.

“Ketika India memangkas pembelian spot minyak Rusia, beberapa kilang China mengambil sedikit kargo Urals untuk pengiriman Oktober,” tulis analis Energy Aspects, Jianan Sun, dalam catatan 7 Agustus.

“Namun, kecil kemungkinan China menyerap seluruh volume yang ditinggalkan India.”

Sun menambahkan Urals bukan jenis pasokan utama bagi kilang BUMN China, sehingga minat untuk menimbunnya secara strategis terbatas.

“Kami juga memperkirakan BUMN China akan berhati-hati mengambil tambahan pasokan Rusia di tengah negosiasi dagang AS–China,” kata dia.

(bbn)

No more pages