"Logika dasarnya sederhana: ketika salah satu pemain utama perdagangan global membatasi akses pasar lewat tarif, maka mekanisme pasar akan terdorong mencari keseimbangan baru yang sering kali mengorbankan negara berkembang dengan struktur ekspor yang belum cukup terdiferensiasi," jelasnya.
"Indonesia termasuk di dalamnya," sambungnya.
Dia tak luput juga menyoroti, tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia diperkirakan mulai terasa pada kuartal III dan IV tahun ini. Meski stabilitas makroekonomi nasional masih relatif terjaga, ketahanan struktural ekonomi Indonesia sedang diuji.
"Terutama karena tekanan eksternal ini datang di saat ruang ekspansi fiskal sudah terbatas, dan pembiayaan pembangunan semakin bertumpu pada capital inflow yang juga sangat sensitif terhadap tensi global," pungkasnya.
Pada kesempatan sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemberlakuan tarif telah disosialisasikan kepada sejumlah kalangan pengusaha meliputi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) hingga eksportir dalam negeri.
"Seperti yang kemarin waktu dikenakan [tarif] 10% kan itu langsung. Sosialisasi juga sudah dilakukan dengan Kadin dan para eksportir," ujar Airlangga kepada wartawan di kawasan Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu malam.
Airlangga mengatakan, pemberlakukan tarif 0% kepada produk Negeri Paman Sam tersebut hingga kini "masih dalam pembahasan", termasuk permintaan sejumlah komoditas Indonesia agar dikecualikan kena tarif 19%, seperti kakao hingga minyak kelapa sawit (CPO).
(prc/roy)






























