Logo Bloomberg Technoz

“Jadi [penopang pertumbuhan ekonomi] ada konsumsi, ada investasi, ada belanja pemerintah. Di sektor lapangan usaha misalnya, sektor industri manufaktur kita tumbuh 5,6%. Investasi yang tadi ini tumbuh 6,99%. Ini dua angka ini digabung jadi faktor penambah pertumbuhan kita. Menjadi 5,12. Jadi kira-kira seperti itu,” ungkap Hasan Nasbi.

Menurut Hasan Nasbi keresahan yang muncul karena pertumbuhan ekonomi yang moncer merupakan framing saja dan menyebut ada beberapa ekonom yang mungkin tidak terlalu positif melihat pertumbuhan Indonesia yang positif.

“Jadi pertumbuhan ekonomi kita positif tapi ada yang melihatnya dengan cara yang tidak positif. Pemerintah itu jujur-jujur saja loh mengeluarkan data. Kalau turun dibilang turun, kalau naik dibilang naik,” terang Hasan Nasbi.

“Data kuartal II-2025 yang dikeluarkan BPS merupakan data yang dikeluarkan pemerintah yang sama. BPS di bawah pemerintahan yang sama. Jadi kalau turun kita bilang turun, kalau kita naik dibilang naik. Tetapi memang ada sebagian kalangan yang kalau turun dia percaya, kalau naik, dia tidak percaya.”

Sejumlah ekonom memang mempertanyakan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,12% pada kuartal II-2025. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam rentan 4,5% - 4,7%. Lembaga riset INDEF mempertanyakan hasil tersebut dan menyatakan hasil tersebut tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan dan menyebut data tersebut sebagai anomali.

(roy/lav)

No more pages