Logo Bloomberg Technoz

"Mereka membiayai mesin perang. Dan jika mereka akan melakukannya, maka saya tidak akan senang," tutur Trump dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India menyebut pengumuman Trump "tidak adil, tidak bisa dibenarkan, dan tidak masuk akal" serta berjanji pemerintah "akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya."

Pasar ekspor utama bagi India. (Bloomberg)

Pajak impor dari puluhan mitra dagang AS akan meningkat mulai Kamis, termasuk India, yang akan dikenai tarif sebelumnya sebesar 25%. Tarif ini merupakan inti upaya Trump untuk mengurangi defisit dagang, menghidupkan kembali manufaktur domestik, dan mengumpulkan pendapatan bagi pemerintah federal.

Kebijakan tarif juga membawa risiko bagi ekonomi global, termasuk prospek kian meningkatnya biaya dan terputusnya rantai pasokan.

Ajay Sahai, Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India, mengatakan langkah terbaru AS merupakan "pukulan keras" bagi perusahaan-perusahaan India karena pesanan sudah ditunda dan "pukulan tambahan ini bisa memaksa eksportir kehilangan klien lama."

Sejumlah negara menghabiskan jam-jam terakhir sebelum tarif baru berlaku untuk melobi pemerintahan Trump agar memberi syarat yang lebih menguntungkan. Presiden Swiss Karin Keller-Sutter bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu sebagai upaya terakhir untuk menurunkan tarif 39%.

Trump mengklaim ia terbuka untuk negosiasi lebih lanjut, tetapi tetap terlibat dalam pertarungan sengit dengan beberapa mitra, termasuk India. 

Dia secara sepihak memberlakukan tarif 25% atas barang-barang India setelah berbulan-bulan negosiasi dengan New Delhi gagal mencapai kesepakatan.

Ia menuduh pemerintah Modi menolak untuk mempermudah akses pasar bagi barang-barang AS dan mengkritik keanggotaannya dalam kelompok negara-negara berkembang BRICS. India enggan mengimpor lebih banyak produk pertanian, khususnya, demi melindungi industri pertanian dan susu mereka. 

Ancaman tarif Trump menghancurkan tujuan jangka panjang AS untuk menjadikan India, negara dengan populasi terpadat di dunia, sebagai penyeimbang geopolitik China. Ini merupakan perubahan haluan drastis dari masa jabatan pertamanya, saat dia menjalin hubungan hangat dengan Modi.

Trump meningkatkan serangan terhadap India dalam beberapa hari terakhir, menyebut ekonominya "mati," hambatan tarifnya "mengganggu," dan rakyatnya acuh tak acuh terhadap penderitaan Ukraina. Para pejabat India juga geram karena Trump menggembar-gemborkan peran besarnya dalam membantu menyelesaikan konflik India-Pakistan awal tahun ini.

Terpisah, ancaman Trump mengenakan tarif pada sektor farmasi akan memberikan pukulan telak bagi India karena industri ini termasuk dalam tiga ekspor utamanya ke AS.

Menurut data Kementerian Perdagangan India, negaranya mengekspor produk farmasi senilai lebih dari US$10,5 miliar pada 2024–2025. Tarif atas obat-obatan akan berdampak buruk pada lebih dari 40% ekspor India ke AS, menambah beban tarif yang sudah ada pada baja, aluminium, dan otomotif.

Para pejabat India tetap teguh pada pendirian mereka dalam negosiasi dagang, menyebut tuduhan dan sanksi Trump tidak beralasan dan mengecam AS dan Uni Eropa karena terus mengimpor barang-barang Rusia, menuding mereka munafik.

Donald Trump saat bertemu Narendra Modi di Hyderabad House, New Dehli, India, tahun 2020. (Bloomberg Mercury)

Trump juga menggunakan tarif sebagai alat untuk mencoba memaksa invasi Rusia ke Ukraina berakhir, yang kini memasuki tahun keempat. Selama kampanye 2024, Trump sesumbar bisa mengakhiri konflik pada hari pertamanya menjabat, tetapi ia semakin frustrasi karena upaya memediasi gencatan senjata tidak menghasilkan banyak kemajuan.

Trump memberi Moskow batas waktu 8 Agustus untuk mencapai gencatan senjata atau menghadapi sanksi, dan mengancam mitra dagang dengan tarif sekunder untuk mencegah pembelian energi Rusia.

Kremlin mengatakan pertemuan antara Putin dan utusan AS Steve Witkoff pada Rabu pagi hanya menghasilkan pertukaran "sinyal."

"Dari pihak kami, khususnya, beberapa sinyal telah disampaikan terkait isu Ukraina," kata Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Presiden Rusia, kepada wartawan tanpa menjelaskan lebih lanjut. "Sinyal serupa juga diterima dari Presiden Trump."

Ushakov mengatakan negosiasi yang berlangsung hampir tiga jam itu "bermanfaat dan konstruktif," dan juga fokus pada prospek pengembangan hubungan AS-Rusia. Moskow akan menunggu Witkoff melaporkan kembali pada Trump sebelum berkomentar lebih lanjut.

Menjelang pertemuan, Trump mengisyaratkan akan mengenakan pungutan tambahan pada negara-negara lain, termasuk China, yang seperti India membeli energi dari Rusia.

"Kami akan melakukan hal itu cukup banyak," kata Trump kepada wartawan. "Kita lihat saja apa yang terjadi dalam waktu yang relatif singkat ke depan."

Sekutu Ukraina mengatakan pembelian energi oleh India, China, dan negara-negara lain telah menopang ekonomi Putin dan melemahkan tekanan pada Moskow untuk mengakhiri perang yang kini telah memasuki tahun keempat.

(bbn)

No more pages