Dihubungi secara terpisah, Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mencatat harga MHP mengalami penurunan sepanjang tahun ini. Pada Januari 2025, MHP tercatat dijual seharga US$18.000 per ton, tetapi pada awal Agustus tercatat berada di sekitar US$14.000/ton.
Dewan Penasihat Pertambangan APNI Djoko Widjajanto mengamini penurunan harga MHP memang berkaitan dengan melandainya permintaan dari smelter HPAL. Dia menyebut para pengusaha smelter hidrometalurgi tengah bersikap hati-hati dalam menjalankan bisnisnya sebab margin keuntungan makin menyempit.
Selain itu, dia meyakini melandainya harga MHP juga dipengaruhi melonjaknya kapasitas MHP global dan ekspansi smelter HPAL yang terjadi di Indonesia dan China.
“Faktor-faktor ini menciptakan lingkungan pasar oversupplied dan sentimen investor yang lemah,” kata Djoko ketika dihubungi, Rabu (6/8/2025).
Margin Menyusut
Djoko mengkalkulasi, keuntungan kotor (gross profit) produk MHP diperkirakan turun dari US$10.000/ton pada 2023 menjadi US$7.000/ton pada 2024. Dia menilai hal tersebut mengurangi daya dorong harga produsen dan memberikan ruang penurunan harga di pasar.
Dia mengestimasikan harga jual MHP mengalami penurunan seiring turunnya tingkat payability dari kisaran 80%—81% menjadi sekitar 77%. Payability sendiri merupakan persentase dari harga acuan nikel di pasar London Metal Exchange (LME) yang digunakan sebagai dasar pembayaran kepada produsen MHP.
“Ekspansi kapasitas HPAL di Indonesia dan China terus meningkat pesat, menciptakan surplus pasokan mencolok hingga pertengahan 2025, yang menekan harga LME dan material terkait,” tegasnya.
Adapun, menurut data Shanghai Metals Market (SMM), harga free on board (FOB) MHP Indonesia memasuki Agustus tercatat sekitar US$12.496/ton nikel, atau hanya 83,5% hingga 84% terhadap harga nikel di indeks SMM.
Dari sisi suplai, menurut SMM, sirkulasi pasar MHP belakangan ini relatif ketat. Beberapa trader pun melaporkan menipisnya volume stok MHP yang tersedia.
"Beberapa pemain hulu dan hilir telah menandatangani pesanan untuk MHP kuartal IV dalam jumlah kecil [dari smelter HPAL di Indonesia]," papar SMM dalam laporan yang dilansir Jumat (1/8/2025).
Dari sisi permintaan, beberapa smelter HPAL tercatat telah mengajukan inquiry pekan ini, meskipun sentimen pembelian secara keseluruhan masih lemah.
"Secara keseluruhan, penawaran dan permintaan pasar [bahan baku baterai nikel] tetap ketat, dan harga diperkirakan akan stabil dalam jangka pendek," tulis SMM.
Sementara itu, harga acuan nikel sulfat SMM tercatat sebesar 27.132 yuan per metrik ton dengan penawaran yang masuk pada kisaran 27.130—27.610 yuan/ton. SMM melaporkan rerata harga nikel sulfat terbilang stabil, meskipun pasokannya terbatas.
Dalam kesempatan berbeda, Djoko menyampaikan harga sulfur granular cost on freight (CFR) atau harga termasuk biaya pengiriman ke pelabuhan Indonesia ikut naik sekitar US$86/ton menjadi US$297/ton pada Juni 2025. Dia memprediksi harga sulfur CFR Indonesia masih mengalami kenaikan sepanjang Juli 2025.
“Masih mengalami kenaikan [pada Juli]. Para produsen HPAL di Indonesia kini membayar biaya per ton MHP jauh lebih tinggi dari sebelumnya, menekan keuntungan meskipun tetap berada di kuartil terbawah biaya global untuk produksi nikel,” kata Djoko.
Adapun, sulfur digunakan sebagai bahan baku pembuatan asam yang merupakan komponen utama dalam proses pelindian (leaching) bijih nikel limonit untuk menghasilkan MHP yang dapat diproses lebih lanjut menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat–salah satu bahan utama pembuatan baterai.
Untuk diketahui APNI mencatat, saat ini terdapat 10 proyek smelter HPAL di Tanah Air. Sebanyak 6 di antaranya sudah beroperasi, sedangkan 4 lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Enam smelter hidrometalurgi yang sudah beroperasi tersebut mencakup 15 lini produksi dengan kebutuhan bijih nikel sejumlah 62,25 juta ton basah atau wet metric ton (wmt). Empat yang masih dalam konstruksi mencakup 6 lini produksi dengan kebutuhan bijih nikel 56,94 juta wmt.
Secara kumulatif, kesepuluh smelter hidrometalurgi tersebut membutuhkan 119,20 juta wmt bijih.
Argus Media belum lama ini melaporkan harga sulfur global mulai naik sejak pertengahan 2024 karena permintaan yang lebih kuat dari Maroko dan Indonesia.
Harga sulfur FoB Timur Tengah naik lebih dari tiga kali lipat menjadi US$285,5/ton FoB per 1 Mei dari US$86/ton tahun sebelumnya, menurut penilaian Argus. Harga sulfur granular cost on freight (CFR) Indonesia naik US$185/ton menjadi US$297/ton CFR selama periode yang sama.
Sementara itu, harga sulfur telah meningkat secara signifikan selama setahun terakhir, sedangkan harga nikel intermediet asal Indonesia sebagian besar berada dalam kisaran US$12.000—US$14.000/ton nikel yang sejak Januari 2024.
Harga nikel yang relatif datar dan kenaikan harga bahan baku membuat margin smelter HPAL makin menyempit. Margin laba kotor untuk produk MHP mendekati US$10.000/ton pada 2023 sebelum turun menjadi sekitar US$7.000/ton pada 2024, menurut perkiraan Argus.
Nikel diperdagangkan di harga US$15.024/ton pada Rabu (6/8/2025) di LME, turun 0,28% dari penutupan sebelumnya. Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
(azr/wdh)
































