Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga akan memaksimalkan penggunaaan APBN yang belum terealisasi hingga saat ini mencapai sekitar Rp2.121 triliun.
"APBN pada paruh kedua semester kedua ini masih ada 2.121 triliun yang rencananya akan dibelanjakan dalam 6 bulan," tutur dia.
"Tetapi kita tetap melihat kualitas belanja harus tetap baik, tata kelola menjadi baik dan tidak ada korupsi sehingga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat."
BPS sebelumnya melaporkan realisasi belanja pemerintah menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang kuartal II-2025 yang mencapai 5,12%.
Pada periode April-Juni, konsumsi belanja pemerintah masih terkontraksi sebesar 0,33%, melanjutkan tren yang juga terjadi pada kuartal pertama yang terkontraksi sebesar 1,38%. Padahal, seluruh komponen pengeluaran mencatatkan pertumbuhan.
"Seluruh komponen pengeluaran tumbuh, kecuali komponen konsumsi pemerintah yang mengalami kontraksi," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2025).
PDB triwulan kedua tersebut masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan porsi mencapai 54,25% atau tumbuh 4,97% secara tahunan.
Kontributor terbesar kedua penopang PDB adalah PMTB (Pembentukan Modal Tetap Bruto)dengan andil mencapai 27,83% yang juga tumbuh 6,99%, diikuti ekspor diposisi ketiga dengan andil 22,28%, yang juga tumbuh 10,67% secara tahunan.
(ain)






























