Logo Bloomberg Technoz

Namun secara keseluruhan semester I-2025, BRMS tetap membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 136% yoy menjadi US$22 juta, ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual rata-rata (ASP) emas yang naik 37,8% menjadi US$3.045/oz.

Bila menyesuaikan dengan item non-recurring seperti write-off pabrik CIL senilai US$7,5 juta dan proyek bauksit senilai US$6,5 juta, laba bersih inti BRMS mencapai US$34,8 juta atau naik 255,7% yoy.

Dari sisi operasional, produksi emas pada kuartal II tercatat 17.071 oz, stagnan dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, namun turun 22,1% dari kuartal sebelumnya. Sementara ASP emas naik menjadi US$3.282/oz dari US$2.336/oz di kuartal II-2024.

UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi BUY terhadap saham BRMS dengan target harga Rp610, mengacu pada valuasi sum-of-the-parts (SOTP).

Potensi pertumbuhan laba jangka panjang dinilai tetap solid, seiring rencana pengembangan tambang bawah tanah di Poboya yang ditargetkan mulai produksi pada pertengahan 2027. Proyek tersebut saat ini sudah menyelesaikan konstruksi portal akses dan penggalian lorong bawah tanah hingga kedalaman 200 meter.

UOB menilai proyek tambang bawah tanah ini berpotensi menjadi katalis utama pertumbuhan volume produksi dan profitabilitas BRMS dalam jangka menengah hingga panjang, terutama saat produksi bijih berkadar tinggi (4,9 g/t) dimulai.

Bersifat Sementara

Direktur BRMS Herwin Hidayat menjelaskan bahwa penurunan tersebut bersifat sementara dan terkait dua faktor utama, yaitu kegiatan penataan kembali atau pushback di area tambang Poboya serta pembebanan write-off proyek non-emas.

Menurut Herwin, selama kuartal I dan II tahun ini, BRMS melakukan aktivitas pushback untuk membuka akses ke zona baru River Reef Poboya yang memiliki kadar emas lebih tinggi. Selama masa ini, perusahaan memproses cadangan bijih dari stockpile dengan kadar 1,4 gram per ton (g/t), lebih rendah dari kadar normal. 

“Pushback ini harus dilakukan agar kami bisa kembali menambang di area bukaan baru dengan kandungan emas lebih tinggi, yaitu 1,6 g/t pada kuartal IV tahun ini,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Selasa (5/8/2025).

Faktor kedua yang turut membebani laba adalah pencatatan write-off senilai US$6,5 juta atas proyek eksplorasi bauksit yang kini dihentikan karena dianggap tidak menjanjikan. Tanpa beban satu kali ini, laba bersih BRMS pada kuartal II diperkirakan akan sejalan dengan kuartal sebelumnya, yakni sekitar US$14 juta.

Herwin juga menjawab kekhawatiran terkait tekanan margin akibat kenaikan tarif royalti emas yang berlaku secara nasional, dari 10% menjadi 16%.

Ia menyebut bahwa perusahaan akan mengandalkan efisiensi melalui peningkatan volume produksi. Secara khusus, ia menekankan bahwa kapasitas akan meningkat drastis pada semester II/2027, ketika tambang emas bawah tanah Poboya mulai beroperasi dengan kadar emas tinggi sekitar 4,9 g/t.

Di luar itu, Herwin turut menjelaskan soal write-off pabrik Carbon in Leach (CIL) senilai US$7,5 juta. Menurutnya, beban tersebut hanya sebagian dari peralatan lama yang kini sedang di-upgrade untuk meningkatkan kapasitas dari 500 ton menjadi 1.000–2.000 ton bijih per hari.

“Transaksi write-off ini hanya dibukukan satu kali dan tidak akan terjadi lagi di masa depan,” jelasnya.

Terkait proyek tambang emas bawah tanah, Herwin melaporkan perkembangan yang signifikan. BRMS telah menunjuk kontraktor asal Australia, Macmahon, dan menyelesaikan pembangunan portal berukuran 5x6 meter. 

Hingga kini, terowongan sudah mencapai panjang lebih dari 200 meter. Ditargetkan, pembangunan akan selesai pertengahan 2027, sehingga produksi perdana dari tambang bawah tanah bisa dimulai pada kuartal IV/2027.

Dengan perkembangan ini, BRMS meyakini bahwa penurunan laba yang terjadi pada kuartal II bersifat sementara, dan akan tertutupi oleh pemulihan kadar bijih serta peningkatan volume produksi pada kuartal-kuartal mendatang.

*Artikel ini telah dilakukan update setelah manajemen Bumi Resources Minerals (BRMS) memberikan respons.*

(dhf)

No more pages