“Saya harus sangat hati-hati. Jadi ini saya lakukan demi keselamatan rakyat kami,” lanjut Trump. “Kami akan melindungi rakyat kami.”
Ketika ditanya pernyataan apa dari Medvedev yang membuatnya geram, Trump menjawab, “Cukup baca saja sendiri. Dia berbicara soal nuklir. Dan ketika bicara soal nuklir, kami harus siap. Dan kami sudah sepenuhnya siap.”
Kementerian Pertahanan AS mengarahkan pertanyaan lebih lanjut kepada Gedung Putih dan menolak mengomentari apakah yang dimaksud Trump adalah kapal selam bersenjata nuklir atau hanya kapal selam bertenaga nuklir biasa.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth melalui akun media sosial pribadinya hanya mengunggah tangkapan layar pernyataan Trump tanpa komentar tambahan. Sementara itu, pihak Kremlin belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Pernyataan Trump tersebut merupakan babak terbaru dari ketegangan terbuka dengan Medvedev, yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia. Dalam unggahannya di X pada 28 Juli lalu, Medvedev memperingatkan Trump bahwa “setiap ultimatum baru adalah ancaman dan langkah menuju perang. Bukan antara Rusia dan Ukraina, tapi dengan negaranya sendiri.”
Harga minyak mentah West Texas Intermediate — patokan minyak AS — sempat anjlok hingga 3,2% pada Jumat setelah data tenaga kerja dan manufaktur melemah. Namun harga kembali stabil setelah komentar Trump soal potensi ancaman dari Rusia. Sikap Trump yang makin keras terhadap Moskow juga memunculkan spekulasi bahwa AS akan memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia, yang dapat memperketat pasokan global.
Trump sebelumnya telah mengatakan bakal menjatuhkan sanksi terhadap Rusia jika Presiden Vladimir Putin tidak menghentikan perang di Ukraina sebelum tenggat baru yang ditetapkan pada 8 Agustus.
Dalam unggahan terpisah pada Kamis (31/7.2025), Trump mengecam Rusia dan India — salah satu pembeli utama energi Rusia — serta melontarkan serangan verbal kepada Medvedev, menyebutnya sebagai “mantan presiden gagal yang sebaiknya jaga mulutnya.”
“Dia sedang bermain api!” ujar Trump.
Medvedev merespons melalui Telegram beberapa jam kemudian, menyatakan bahwa Rusia akan tetap berjalan di jalurnya sendiri, sekaligus menyindir Trump.
Ketegangan antara Trump dan Medvedev meningkat di minggu yang sama ketika Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut Medvedev sebagai “bukan pemain relevan.”
Jennifer Kavanagh, peneliti senior dan direktur analisis militer di lembaga think tank Defense Priorities yang berbasis di Washington, menyebut pertukaran pernyataan di media sosial tersebut sebagai bentuk diplomasi internasional yang “tidak membantu dan sangat berisiko.”
Kavanagh juga menilai kecil kemungkinan bahwa keputusan Trump mengubah postur nuklir AS secara signifikan. “Kemungkinan besar kapal selam nuklir AS sudah ditempatkan di lokasi strategis untuk menyerang Rusia jika diperlukan,” ujarnya.
Sikap Putin
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menepis tekanan terbaru dari Trump. Ia menyatakan bahwa tujuan perang di Ukraina belum berubah dan menolak seruan gencatan senjata.
Putin menyebut pembicaraan antara Rusia dan Ukraina di Turki sebagai “secara umum positif,” namun menyalahkan frustrasi atas perang kepada “ekspektasi yang berlebihan,” tanpa secara langsung menyebut nama Trump.
Dalam kampanye Pilpres 2024, Trump berjanji akan segera mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang kini telah memasuki tahun keempat. Namun janji tersebut belum membuahkan hasil, sementara Putin tetap mengajukan tuntutan maksimal terhadap wilayah Ukraina dan menolak dialog langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.
Matthew Kroenig, Wakil Presiden dan Direktur Senior di Scowcroft Center for Strategy and Security di Atlantic Council, menyebut unggahan Trump sebagai “langkah brilian” dan bagian dari strategi untuk memaksa Putin kembali ke meja perundingan.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada hari yang sama menyatakan terbuka untuk melanjutkan dialog dengan AS — sebuah pesan yang disampaikan tak lama sebelum pengumuman Trump terkait kapal selam.
“Diskusi substantif mengenai isu Ukraina yang telah berlangsung antara Moskow dan Washington sejak awal tahun ini sangat bermanfaat dan membuahkan hasil,” ujar Lavrov dalam pernyataan di situs resmi kementeriannya.
Trump sebelumnya juga mengatakan bahwa utusan khususnya, Steve Witkoff, akan mengunjungi Moskow setelah menyelesaikan perjalanan ke Timur Tengah, namun belum menyebutkan tanggal pasti kunjungan tersebut.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan soal apakah Witkoff masih akan berangkat ke Rusia.
(bbn)


























