“Meski kami memperkirakan pasar saham akan terus naik dalam 12 bulan ke depan, investor perlu waspada terhadap potensi volatilitas dalam beberapa minggu mendatang,” kata Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management. “Strategi pelestarian modal atau penerapan investasi bertahap bisa efektif dalam menghadapi gejolak jangka pendek.”
Trump dijadwalkan menandatangani perintah eksekutif untuk menetapkan tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang, yang akan mulai berlaku Jumat (1/8) waktu Washington. Ia telah mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan, serta menetapkan tarif secara sepihak terhadap India dan Brasil. Sementara itu, tarif yang berlaku untuk Meksiko diperpanjang selama 90 hari guna memberi waktu tambahan untuk negosiasi.
Presiden AS juga mengirim surat kepada 17 perusahaan farmasi terbesar guna menekan harga obat, yang membuat saham sektor tersebut melemah pada Kamis. Trump juga meminta masukan dari para CEO bank mengenai strategi monetisasi perusahaan hipotek Fannie Mae dan Freddie Mac, termasuk rencana penawaran saham perdana (IPO) besar-besaran, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat hampir tidak berubah di angka 4,37% pada Kamis. Penguatan dolar AS mendorong pelemahan yen Jepang hingga menembus level 150 per dolar. Yen yang lebih lemah ini dipicu oleh pernyataan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda yang dinilai kurang hawkish dari perkiraan pasar.
Di Asia, pelaku pasar akan mencermati data ketenagakerjaan di Jepang, inflasi di Indonesia, serta indeks manufaktur S&P Global untuk Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan Taiwan. Sementara itu, Hong Kong akan mulai menerapkan skema lisensi bagi penerbit stablecoin.
Data Ketenagakerjaan Jadi Sorotan
Fokus pasar kini tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Juli yang akan dirilis Jumat. Laporan ini diperkirakan menunjukkan bahwa perusahaan mulai lebih berhati-hati dalam merekrut tenaga kerja. Pertumbuhan lapangan kerja diperkirakan melambat setelah kenaikan pada Juni, sementara tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 4,2%.
Menjelang laporan tersebut, indikator inflasi utama pilihan The Fed menunjukkan percepatan pada bulan Juni, mencapai salah satu laju tercepat sepanjang tahun ini. Di sisi lain, konsumsi masyarakat nyaris tidak tumbuh, mencerminkan tarik-menarik antara kekuatan inflasi dan daya beli.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (core PCE) — indikator inflasi favorit The Fed — naik 0,3% dari Mei, dan meningkat 2,8% secara tahunan. Angka ini menunjukkan perlambatan yang belum signifikan dalam upaya pengendalian inflasi dibandingkan Juni 2024. Data juga menunjukkan bahwa konsumsi riil yang telah disesuaikan terhadap inflasi hanya mengalami kenaikan tipis bulan lalu.
“Inflasi masih cenderung melekat, dan ini membenarkan keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga dalam pertemuan Rabu lalu,” ujar Clark Bellin dari Bellwether Wealth. “Pasar saham tidak memerlukan pemangkasan suku bunga untuk tetap menguat, dan sejauh ini sudah mencatatkan kenaikan yang solid tahun ini tanpa bantuan pemangkasan tersebut.”
(bbn)



























