“Ada peningkatan kan, year on year loh. Berarti kan kita enggak bisa mengatakan itu jadi penurunan,” ujarnya.
Dia menjelaskan fenomena Rojali tersebut kemungkinan memberikan pengaruh terhadap kontraksi IPR, namun tidak bisa disimpulkan sebagai sinyal penurunan daya beli masyarakat karena banyak faktor lainnya juga.
Sebelumnya, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membeberkan omzet mal bakal merosot dibandingkan tahun lalu imbas maraknya fenomena Rojali seiring melemahnya daya beli masyarakat.
“Pasti [mengurangi omzet],” kata Alphonzus saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan (PGC) Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Dia menyebut pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini kurang dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara APPBI menargetkan sebanyak 20%-30% di tahun ini.
“Kenaikan trafik hanya 10%. Sebetulnya target kita kan 20%-30% kenaikannya dibandingkan dengan tahun lalu,” ujarnya.
Alphonzus menjelaskan sejatinya fenomena Rojali bukan bukan hal yang baru karena sebelumnya sudah pernah terjadi. Hanya saja intensitas jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Menurutnya, hal itu disebabkan karena daya beli masyarakat yang semakin berkurang karena kondisi ekonomi. Bagi kelas menengah ke bawah menjadi lebih selektif dalam berbelanja dengan membeli produk dengan harga satuan.
“Berbelanja kalau tidak perlu, tidak belanja, kemudian kalaupun belanja beli barang produk yang harga satuan yang unit harganya murah itu yang terjadi,” tuturnya.
Sementara itu, bagi kelas menengah ke atas akan lebih hati-hati dalam membelanjakan uangnya, mereka disebut lebih memilih untuk berinvestasi.
Di sisi lain, dia menuturkan fenomena rojali akan terus berlanjut ketika daya beli masyarakat makin tergerus.
Namun, ketika pemerintah mulai memberikan stimulus kebijakan untuk mendorong daya beli masyarakat maka fenomena rojali akan terhenti.
“Jadi kami yakin fenomena ini enggak akan selamanya, ini hanya sifatnya sementara di mana daya beli masyarakat masih belum pulih,” imbuh dia.
(ain)



























