Ia menambahkan, sejumlah laporan ekonomi penting akan dirilis sebelum pertemuan The Fed berikutnya pada September, termasuk dua bulan data ketenagakerjaan dan inflasi.
“Kami akan mempertimbangkan seluruh informasi tersebut, termasuk data lainnya yang kami peroleh, untuk mengambil keputusan pada pertemuan September,” ujarnya.
Para investor awalnya berharap ada sinyal bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan mendatang. Namun, setelah Powell berbicara, pasar merespons dengan menjual obligasi pemerintah AS dan mendorong nilai dolar ke level tertinggi sejak Mei. Indeks S&P 500 juga tercatat turun.
Kontrak berjangka suku bunga menunjukkan bahwa pelaku pasar memangkas kemungkinan pemangkasan suku bunga pada September menjadi sekitar 40%, dari sekitar 60% sebelum pengumuman.
Powell mempertahankan sikap netral, menyampaikan bahwa para pembuat kebijakan masih membutuhkan lebih banyak data ekonomi sebelum mengambil tindakan, menurut Claudia Sahm, kepala ekonom di New Century Advisors sekaligus mantan ekonom Federal Reserve.
“Mereka butuh lebih banyak data untuk menyelesaikan perbedaan pendapat, dan itu butuh waktu,” kata Sahm. “Bisa jadi mereka hanya ingin semua opsi tetap terbuka untuk saat ini.”
Komitmen pada Inflasi
Kebijakan tarif yang diberlakukan Trump terhadap puluhan mitra dagang AS menambah ketidakpastian dalam proyeksi ekonomi dan pertimbangan kebijakan The Fed. Pemerintah Trump sedang merundingkan sejumlah perjanjian dagang menjelang tenggat 1 Agustus, dan telah mencapai kesepakatan penting dengan Jepang serta Uni Eropa.
“Kita masih cukup jauh dari titik akhir negosiasi,” ujar Powell. “Memang kita makin banyak belajar dari proses ini. Tapi rasanya kita belum terlalu dekat dengan garis akhir.”
Data inflasi konsumen untuk bulan Juni menunjukkan bahwa perusahaan mulai meneruskan beban tarif kepada konsumen secara lebih signifikan. Powell menyiratkan bahwa The Fed cenderung “mengabaikan tekanan harga barang” dengan tidak menaikkan suku bunga.
Ke depan, ia menyebut para pembuat kebijakan akan memastikan agar tarif tidak menyebabkan “inflasi yang serius.” Ia menekankan pentingnya menyeimbangkan risiko antara menurunkan suku bunga terlalu cepat — yang bisa menggagalkan pencapaian target inflasi 2% — dengan risiko menurunkannya terlalu lambat, yang bisa membebani pasar tenaga kerja.
“Apa yang kami coba lakukan adalah menjalankan kebijakan secara efisien,” kata Powell. “Namun pada akhirnya, tidak boleh ada keraguan bahwa kami akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.”
“Frasa kunci hari ini adalah ‘efisien’: Lebih efisien menahan suku bunga daripada buru-buru memangkas lalu harus menaikkannya lagi,” tulis analis Bank of America dalam catatan kepada klien.
Pandangan yang Berseberangan
Trump terus melontarkan desakan agar The Fed menurunkan suku bunga, termasuk pada Rabu pagi sebelum keputusan diumumkan.
Sejak pertemuan The Fed terakhir pada Juni, Deputi Gubernur Christopher Waller dan Michelle Bowman — keduanya ditunjuk oleh Trump — telah menyampaikan dasar argumen mereka untuk memangkas suku bunga sedini pertemuan pekan ini.
Bowman menyoroti tanda-tanda rapuhnya pasar tenaga kerja, sementara Waller menilai perlambatan perekrutan sektor swasta mengindikasikan adanya kelemahan struktural di pasar kerja AS.
Pada Rabu, Powell mengatakan bahwa para pembuat kebijakan akan mencermati risiko perlambatan pasar tenaga kerja yang “jelas terlihat.” Namun ia menegaskan kondisi pasar tenaga kerja saat ini masih solid, dan bahwa The Fed telah lebih dekat pada target pencapaian lapangan kerja maksimal dibandingkan target inflasi 2%.
“Itu berarti kebijakan seharusnya ketat, karena kebijakan ketat yang akan menurunkan inflasi,” ujar Powell. “Jika Anda sampai pada kesimpulan bahwa risiko terhadap dua target itu lebih seimbang, maka kebijakan seharusnya tidak terlalu ketat.”
James Knightley, kepala ekonom internasional ING, mengatakan bahwa perbedaan pandangan tersebut lebih mencerminkan persoalan waktu, bukan ketidaksepakatan mendasar.
“Ini lebih soal kapan harus bertindak, bukan soal apakah perlu bertindak,” ujarnya. “Gubernur Powell sudah mencermatinya, tapi ia belum melihat urgensi untuk segera bertindak.”
(bbn)





























