“Pemasangan tangga besi pada titik-titik tertentu saja yang dianggap rawan, dan juga ada penyusunan tangga alami [perataan tanah dan batu-batu], pemasangan tali dan railing,” tulisnya.
Sebelumnya, pemasangan tangga besi pada sejumlah titik rawan tersebut baru akan diimplementasikan usai terjadinya dua kecelakaan yang cukup menjadi perhatian khalayak. Dua kecelakaan tersebut terjadi pada dua pendaki asal Brasil dan Swiss.
Juliana De Souza, pendaki asal Brasil, merupakan salah satu kasus kecelakaan yang paling menjadi perhatian publik. Bahkan, banyak warga asal Brasil yang menaruh perhatian terkait kejadian tersebut.
“Juliana refleksi dari pemerintahan sebuah negara yang lambat dalam penanganan, seperti kalau digambarkan menelantarkan anak-anaknya, di pedalaman tanpa air, hingga mati kedinginan dan kesakitan tanpa bantuan apapun,” tulis akun X @SavioCGoncalves.
Teranyar, kecelakaan di jalur pendakian dialami oleh pendaki asal Swiss, Benedikt Emmenegger. Berbeda dengan korban sebelumnya, evakuasi udara dapat dilakukan terhadap Benedikt.
Balai TNGR mulanya menerima laporan adanya kecelakaan terhadap pendaki asal Swiss tersebut pada Rabu (17/7) pada pukul 11.25 WITA. Belajar dari pengalaman sebelumnya, tim gabungan dari Balai TNGR, Edelweis Medical Health Center (EMHC), Rinjani Squad, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Masyarakat Mitra Polhut, hingga relawan segera mengevakuasi Benedikt.
(fik/spt)





























