Kendati AS bukan importir utama baja China, meredanya ketegangan antara kedua negara telah mendorong sentimen ekonomi secara keseluruhan serta permintaan terhadap bahan baku industri.
Sinyal positif juga datang dari China — produsen baja terbesar dunia — yang diperkirakan akan mencatatkan perbaikan kinerja keuangan.
Sebuah laporan Bloomberg Intelligence menyebutkan 22 emiten baja di Negeri Tirai Bambu diproyeksikan mencatat penurunan kerugian hingga 70% pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Margin keuntungan sebagian besar perusahaan baja meningkat di kuartal pertama dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan potensi titik balik mulai 2024,” ujar analis Bloomberg Intelligence, Michelle Leung, dalam laporannya.
Kendati harga bijih besi mengalami fluktuasi tajam sepanjang 2025, kini harga tercatat relatif stabil dibandingkan awal tahun.
Komoditas ini membukukan kenaikan mingguan kelima berturut-turut — rekor terpanjang sejak November 2023 — ditopang optimisme terhadap langkah China menghapus kapasitas industri yang usang di sektor-sektor strategis.
Hingga pukul 12:20 waktu Singapura, kontrak berjangka bijih besi naik 2% menjadi US$102,85 per ton. Kontrak berdenominasi yuan di Dalian juga menguat, seiring dengan kenaikan harga kontrak baja di Shanghai.
(bbn)
































