Bernadus menyatakan Vale akan mengefisiensikan nilai proyek tersebut sekitar 15% dari rencana awal, tetapi dia menegaskan angka tersebut baru perkiraan awal dan masih dapat berubah mengikuti perkembangan harga dan industri nikel dunia.
Pasar Dinamis
Bernadus menyebut perkembangan industri dan pasar nikel dunia sangat dinamis. Dahulu, kata dia, pasar nikel dunia dihadapi permasalahan kelangkaan stok. Namun kini, justru harga nikel dunia tertekan akibat oversupply.
“Kami mempunyai cadangan yang cukup besar, kemudian kami juga mengintensifkan kegiatan eksplorasi dan dari situ kami mengetahui sebetulnya aset yang akan kami optimalkan itu apa,” klaim Bernardus.
Adapun, Vale baru saja mendapatkan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang baru untuk blok Bahodopi, Sulawesi Tengah pekan lalu.
INCO menargetkan penjualan bijih nikel kadar tinggi atau saprolit sampai 2,2 juta ton pada semester II-2025, selepas persetujuan revisi RKAB didapat. Proses pengapalan bijih saprolit pertama telah dimulai pada Sabtu (26/7/2025).
Setelah itu, proyek Pomalaa dijadwalkan menyusul pada kuartal II-2026, sedangkan Sorowako akan menjadi tahap akhir dari rangkaian ekspansi Vale Indonesia. Ketiga tambang tersebut sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan.
Dalam pengembangan hilir, Vale bermitra dengan sejumlah pemain global untuk membangun fasilitas HPAL.
Untuk proyek Pomalaa, Vale telah bekerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd (Huayou) dan Ford Motor Co dalam pembangunan smelternya.
Untuk Bahodopi, proyek dilakukan bersama GEM Hong Kong International Co. Ltd, dan di Sorowako, Vale kembali berkolaborasi dengan Huayou.
Adapun, sejak awal tahun ini sederet dinamika terus mewarnai operasional perusahaan China di industri hilir nikel Tanah Air seiring dengan berlanjutnya tekanan harga nikel.
Nikel diperdagangkan di harga US$15.269/ton pada Senin (28/7/2025) di London Metal Exchange (LME), terkoreksi 0,33% dari penutupan sebelumnya pada Jumat pekan lalu. Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000 per ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.
Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam empat tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.
Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.
Menurut data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), saat ini terdapat 27 proyek smelter HPAL dengan kebutuhan total 150,3 juta ton bijih nikel.
Perinciannya; sebanyak 5 sudah beroperasi dengan kebutuhan 48,2 juta ton bijih nikel, 3 masih dalam tahap konstruksi dengan taksiran kebutuhan 33,6 juta ton bijih, dan 19 masih dalam tahap perencanaan dengan estimasi kebutuhan 68,5 juta ton bijih.
Total proyek smelter nikel di Indonesia mencapai 147 proyek dengan estimasi total kebutuhan bijih 735,2 juta ton. Sementara itu, RKAB nikel yang disetujui untuk 2025 mencapai 364 juta ton, naik dari tahun lalu sebanyak 319 juta ton.
(azr/wdh)
































