Senin (14/7/2025) lalu, Trump mengancam akan memberlakukan tarif dagang yang sangat tinggi pada Rusia jika Moskow tidak menghentikan agresinya terhadap Ukraina. Pada saat yang sama, Trump juga menjanjikan pasokan senjata baru untuk Kyiv.
"Kami akan memberlakukan tarif yang sangat berat jika tidak ada kesepakatan dalam 50 hari ke depan, tarif sekitar 100%," ujar Trump dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih, seperti dilansir Bloomberg News.
Meski Trump dan Putin telah beberapa melakukan panggilan telepon, dan utusan khusus AS Steve Witkoff sudah mengunjungi Rusia, Putin meyakini belum ada diskusi yang merinci dasar rencana perdamaian.
"Putin menghargai hubungan dengan Trump dan telah berdiskusi dengan baik dengan Witkoff, tetapi kepentingan Rusia di atas segalanya," imbuh narasumber tersebut.
Ketika ditanya mengenai laporan Reuters, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyalahkan mantan Presiden Joe Biden karena membiarkan perang meletus pada masa pemerintahannya.
"Tidak seperti Biden, Presiden Trump fokus untuk menghentikan pembunuhan, dan Putin akan menghadapi sanksi dan tarif yang berat jika dia tidak setuju gencatan senjata," ujarnya.
Menurut narasumber tersebut, syarat-syarat damai yang diajukan Putin mencakup janji yang mengikat secara hukum bahwa NATO tidak akan memperluas ke arah timur, netralitas Ukraina dan pembatasan angkatan bersenjatanya, perlindungan bagi penutur bahasa Rusia yang tinggal di sana, serta penerimaan atas keuntungan teritorial Rusia.
Putin juga disebut bersedia membahas jaminan keamanan untuk Ukraina, dengan melibatkan negara-negara besar, meski masih belum jelas bagaimana hal ini akan berjalan.
Presiden Volodymyr Zelenskiy telah menyatakan Ukraina tidak akan pernah mengakui kedaulatan Rusia atas wilayah-wilayah yang didudukinya dan Kyiv tetap memiliki hak kedaulatan untuk memutuskan apakah ingin bergabung dengan NATO. Kantor Zelenskiy menolak mengomentari laporan ini.
Narasumber kedua yang familiar dengan pemikiran Kremlin mengatakan Putin menganggap tujuan Moskow jauh lebih penting daripada potensi kerugian ekonomi akibat tekanan Barat. Dia tidak khawatir akan ancaman AS yang ingin mengenakan tarif pada China dan India karena membeli minyak Rusia.
Dua narasumber mengklaim Rusia unggul di medan perang dan ekonominya, yang diarahkan untuk perang, melampaui produksi aliansi NATO yang dipimpin AS dalam amunisi utama, seperti peluru artileri.
Rusia, yang sudah menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, maju sejauh 1.415 km persegi dalam tiga bulan terakhir, menurut data dari DeepStateMap, peta intelijen sumber terbuka tentang konflik tersebut.
"Nafsu makan datang seiring makan," kata narasumber pertama. Artinya, Putin akan mengincar lebih banyak wilayah kecuali perang dihentikan. Dua narasumber lainnya secara independen mengonfirmasi hal yang sama.
Rusia saat ini menguasai Krimea, yang dianeksasi pada 2014, ditambah seluruh wilayah timur Luhansk, lebih dari 70% wilayah Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson, serta sebagian wilayah Kharkiv, Sumy, dan Dnipropetrovsk.
Sikap publik Putin bahwa lima wilayah pertama—Krimea dan empat wilayah timur Ukraina—kini menjadi bagian dari Rusia, dan Kyiv harus mundur sebelum perdamaian tercapai.
Putin bisa terus bertempur hingga pertahanan Ukraina runtuh dan memperluas ambisi teritorialnya untuk mencakup lebih banyak wilayah Ukraina.
"Rusia akan bertindak berdasarkan kelemahan Ukraina," kata narasumber ketiga, menambahkan bahwa Moskow mungkin akan menghentikan serangannya setelah menaklukkan empat wilayah timur Ukraina jika menghadapi perlawanan kuat. "Namun jika itu terjadi, akan ada penaklukan yang lebih besar di Dnipropetrovsk, Sumy, dan Kharkiv."
Zelenskiy mengatakan serangan musim panas Rusia tidak berjalan sesukses yang diharapkan Moskow. Para petinggi militernya, yang mengakui jumlah pasukan Rusia lebih banyak dari Ukraina, mengatakan pasukan Kyiv berhasil bertahan dan memaksa Rusia membayar mahal atas setiap kemajuan yang dicapainya.
(ros)































