Hal ini mencakup peningkatan efisiensi dan kapasitas di sektor hulu migas, modernisasi kilang, serta perluasan jaringan distribusi dan ritel bahan bakar minyak (BBM).
Pilar kedua diarahkan pada pengembangan bisnis rendah karbon sebagai bagian dari transisi energi.
"Pertamina berkomitmen mengembangkan biofuel, memperluas pemanfaatan energi panas bumi, menguji coba teknologi energi baru, serta memperkuat portofolio produk kimia sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi dan diversifikasi usaha," terangnya.
Gandeng Saudi
Kerja sama teranyar, Pertamina menggandeng perusahaan Arab Saudi ACWA Power untuk mengembangkan teknologi energi bersih. Danantara pun ikut terlibat dalam proyek pembangkit listrik hidrogen hijau dan desalinasi air yang bernilai US$10 miliar itu.
Proyek-proyek itu mencakup pengembangan teknologi energi terbarukan dan gas-ke-listrik kumulatif sebesar 500MW, tender listrik baru, proyek hidrogen hijau, dan lini bisnis operasi dan pemeliharaan (O&M).
Sebagai informasi, Pertamina berhasil membukukan laba bersih sebesar US$3,13 miliar atau sekitar Rp49,54 triliun sepanjang tahun 2024. Kinerja positif ini didukung oleh pendapatan yang mencapai US$75,33 miliar atau sekitar Rp1.194 triliun, serta EBITDA sebesar US$10,79 miliar atau Rp171,04 triliun.
Selama periode tersebut, Pertamina juga mencatatkan produksi mencapai 1 juta barel setara minyak per hari, yang berkontribusi sekitar 69% terhadap total produksi migas nasional.
(art/wdh)






























