Lebih lanjut, Todotua menyebut pemangkasan tarif AS yang baru diumumkan Rabu (15/7/2025) waktu setempat merupakan sinyal bahwa posisi Indonesia makin diperhitungkan oleh Washington.
“Kalau mau berbicara begitu, ya negara kita ini strategis. Amerika sudah mau menurunkan dari 32% ke 19%,” ujar Todotua.
Dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, lanjutnya, pemangkasan tarif untuk Indonesia tergolong signifikan.
Trump baru saja mengumumkan bahwa tarif impor atas produk dari Indonesia ditetapkan sebesar 19%, lebih rendah dibandingkan dengan 32% yang sebelumnya disampaikan.
Dia juga menegaskan kesepakatan ini mencakup komitmen Indonesia untuk melakukan pembelian produk energi dari Amerika Serikat senilai hingga US$15 miliar, serta berbagai komoditas lainnya.
Ditemui pada kesempatan terpisah kemarin, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengonfirmasi akan tetap melanjutkan pembahasan potensi kerja sama pembelian minyak mentah (crude) dari AS.
Simon mengatakan Pertamina baru saja melaksanakan penandatanganan tiga nota kesepahaman tidak mengikat atau non-binding memorandum of understanding (MoU) untuk menjalin hubungan baik dengan AS terkait dengan komitmen pembelian minyak mentah.
“Jadi kerja sama itu sudah ada. Jadi tentunya kita akan lanjutkan dengan pembicaraan lanjutan. Dan kita berharap supaya tetap kerja sama itu berjalan,” kata Simon kepada Bloomberg Technoz, ditemui di sela kegiatan Peluncuran Kelembagaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Selasa (15/7/2025).
Ketika ditanya mengenai volume pembelian minyak dalam kerja sama tidak terikat tersebut, Simon mengaku belum membahasnya lebih detil.
“[Volume] masih belum, masih secara umum saja. Akan tetapi, berarti semangat yang mendasari adalah untuk tetap menjalin kerja sama yang baik,” ucapnya.
Keputusan volume ataupun nilai kerja sama tersebut nantinya akan diambil sejalan dengan rencana pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Adapun, ketiga MoU business to business (B2B) tersebut sebelumnya dilakukan Pertamina—melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) — dan ExxonMobil Corp., KPI dan KDT Global Resource LLC., serta KPI dan Chevron Corp.
(art/wdh)





























