"Hubungan bilateral Indonesia-Jepang yang telah terjalin selama 67 tahun berlangsung sangat baik. Hubungan ini perlu terus dijaga dan diperkuat oleh seluruh unsur, baik pemerintah maupun masyarakat dari kedua negara," ujarnya.
Berdasarkan data Kantor Imigrasi Jepang hingga Desember 2024, jumlah WNI di Jepang mencapai 199.824 orang. Jumlah tersebut sekitar 5% dari total warga negara asing di Jepang.
"Mayoritas WNI di Jepang merupakan pekerja di berbagai sektor, disertai sekitar 7.000 pelajar dan mahasiswa yang menempuh pendidikan di berbagai institusi di seluruh wilayah Jepang," ujar KBRI Tokyo.
Sebelumnya diberitakan, karena banyaknya perilaku warga Indonesia atau pekerja Indonesia membuat resah warga lokal di berbagai wilayah Jepang.
Salah satu kasus menonjol terjadi pada Januari 2025. Ada insiden perampokan di Hokota, Prefektur Ibaraki. Selang lima bulan, polisi berhasil menangkap 11 pelaku berkebangsaan Indonesia. Motif para tersangka saat ini masih dilakukan pendalaman. Korban disebut warga lokal Hokota.
Di media sosial pun ramai kalau pada 2026 menjadi tahun terakhir pekerja migran bisa bekerja di Jepang.
Staf Khusus Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Moksa Hutasoit merespons banyaknya perilaku warga negara Indonesia (WNI) yang menimbulkan keresahan di kalangan warga lokal Jepang karena kasus kriminalitas.
Moksa mengatakan para tersangka WNI—termasuk yang tersangkut dalam kasus terbaru terkait dengan peristiwa perampokan di Jepang — bukanlah dari bagian pekerja migran Indonesia (PMI).
“Mereka bukan PMI karena tidak terdaftar dalam sistem kita, Sistem Komputerisasi untuk Pelayanan dan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (Sisko P2MI). Kami menduga mereka adalah peserta magang,” kata Moksa kepada Bloomberg Technoz, dikutip Sabtu (12/7/2025).
(dec/spt)





























