Selama periode yang sama, impor China juga mengalami peningkatan. Namun, pasar merespons pernyataan Trump dengan tenang.
Harga patokan global Brent justru turun hampir 2% dan ditutup di bawah US$70 per barel pada Senin, mengindikasikan minimnya kekhawatiran atas potensi gangguan aliran minyak mentah.
Trump menyebut bahwa sanksi akan berbentuk tarif sekunder namun tidak menjelaskan lebih lanjut.
Trump menegaskan kebijakan ini akan diterapkan dalam 50 hari jika Rusia tidak menghentikan agresinya ke Ukraina.
Duta Besar AS untuk NATO Matt Whitaker mengatakan langkah tersebut secara efektif merupakan sanksi terhadap negara-negara yang membeli minyak Rusia.
India dan China disebut secara spesifik dalam pernyataan Whitaker.
Aliran minyak Rusia ke India mencapai 2,1 juta barel per hari pada Juni—volume bulanan terbesar dalam hampir setahun dan mendekati rekor Mei 2023, menurut Kpler.
Sementara itu, impor China memang tidak meningkat setajam India, tetapi tetap stabil di atas 1 juta barel per hari sejak awal perang.
“Jika situasi benar-benar memanas dan India tidak lagi bisa membeli minyak dari Rusia, maka India masih punya opsi lain di antara negara-negara OPEC,” kata Mukesh Sahdev, kepala pasar komoditas di Rystad Energy A/S.
“Namun, biayanya akan lebih tinggi,” tambahnya.
Minyak dari Timur Tengah dan Afrika dapat mengisi kekosongan pasokan Rusia, tetapi harganya lebih mahal.
Data dari Kementerian Perdagangan dan Industri India menunjukkan, impor dari Arab Saudi pada Mei dihargai US$5 lebih mahal per barel dibandingkan minyak Rusia, sementara pengiriman dari Irak lebih mahal sekitar 50 sen.
(bbn)






























