Pelemahan rupiah terjadi ketika indeks saham domestik dibuka menguat ketika terjadi gelar pencatatan saham perdana emiten konglomerasi Prajogo Pangestu. IHSG dibuka naik 0,21% dan selanjutnya melenggang di 6.913,67.
Di pasar surat utang negara pagi ini, terlihat bahwa harga surat utang cenderung tertekan dalam kisaran terbatas. Seperti dilansir data OTC Bloomberg, yield SUN tenor 2Y yang kemarin turun cukup banyak, pagi ini naik tipis 0,2 bps. Sedangkan tenor 5Y juga naik 0,4 bps.
Tenor acuan 10Y naik 0,2 bps di level 6,591%. Sementara tenor 11Y, tingkat imbal hasilnya turun 3,4 bps kini di 6,685%.
Secara teknikal rupiah memiliki level support di Rp16.250/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp16.300/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, rupiah berpotensi melemah lebih lanjut menuju level Rp16.310/US$ hingga Rp16.350/US$ sebagai support terkuat.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan hari ini, resistance menarik dicermati ada di kisaran Rp16.180/US$ dan selanjutnya Rp16.150/US$ hingga Rp16.100/US$ potensial.
Lanskap global saat ini masih didominasi oleh sentimen seputar kebijakan tarif AS. Presiden AS Donald Trump dalam pernyataan terbaru mengatakan, ia tidak akan memperpanjang batas waktu penerapan tarif pada 1 Agustus mendatang.
Trump juga mengatakan bahwa ia berniat mengenakan bea masuk hingga 50% untuk impor tembaga sebagai bagian dari serangkaian tarif sektoral yang akan datang.
Trump juga mengindikasikan bahwa produsen farmasi mungkin akan diberi waktu setidaknya satu tahun sebelum diterapkannya tarif memberatkan sebesar 200% atas produk mereka yang dibuat di luar negeri.
Sementara dari dalam negeri, pasar akan mencermati laporan Survei Penjualan Ritel bulan Mei yang diperkirakan terkontraksi dibanding April namun sedikit membaik dalam hitungan pertumbuhan tahunan.
Adapun proyeksi penjualan ritel bulan Juni (angka awal) diperkirakan kembali melemah sebelum nanti mengalami kebangkitan pada Juli dan Agustus.
Pasar domestik juga tengah menunjukkan ekspektasi yang meningkat akan peluang penurunan BI rate pada pekan depan seperti terlihat dari gelar lelang sukuk negara (SBSN) yang menyentuh rekor tertinggi incoming bids kemarin sebesar Rp40,83 triliun.
Investor banyak meminati tenor pendek dalam lelang sukuk kemarin, sama halnya dengan tren yang terjadi di pasar sekunder. Kemungkinan sebagai bagian dari strategi defensif menghadapi ketidakpastian yang masih besar akibat isu tarif Trump.
"Kelihatannya pasar berekspektasi Bank Indonesia akan memangkas bunga acuan BI rate sebesar 25 bps ke 5,25% untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lesu," kata Fixed Income and Market Strategist Mega Capital Lionel Priyadi.
Resiliensi pasar surat utang negara pada Selasa kemarin, menurut analis, tidak hanya didorong oleh intervensi BI di pasar nilai tukar saja, tetapi juga dipicu oleh ekspektasi investor terhadap peluang BI kembali memangkas suku bunga di bulan Juli.
"Investor berspekulasi pemangkasan BI rate di bulan Juli akan terjadi demi mencegah perlambatan pertumbuhan GDP lebih lanjut akibat efek kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang lebih buruk dari dugaan, apalagi eskalasi perang dagang semakin berpotensi meningkat setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif sectoral tembagan dan farmasi," kata Lionel.
(rui)





























