Logo Bloomberg Technoz

Pada sisi lain, beberapa pemain mengeluh kesulitan mendengar suara otomatis dari sistem, bahkan seorang atlet tuna rungu mengaku tak tahu kapan ia memenangkan poin karena tidak ada isyarat tangan dari hakim garis manusia.

Insiden gangguan teknologi juga terjadi dalam pertandingan antara petenis Inggris Sonay Kartal melawan Anastasia Pavlyuchenkova dari Rusia. Sistem AI gagal mendeteksi bola yang keluar, memaksa wasit menghentikan reli dan memerintahkan pengulangan poin.

Pihak Wimbledon kemudian meminta maaf dan menyebut insiden itu sebagai "kesalahan manusia" karena sistem secara tak sengaja dimatikan selama pertandingan.

Ketua penyelenggara All England Club, Debbie Jevans, menanggapi kritik dengan menyatakan, sistem AI dipilih karena dianggap lebih akurat dibanding hakim garis konvensional.

"Ketika kami masih menggunakan hakim garis, banyak yang mempertanyakan kenapa kami belum beralih ke teknologi. Sekarang setelah digunakan, kami mendengar keluhannya," kata Jevans.

Kritik terhadap AI bukan kali ini saja mencuat. Pada April lalu, petenis Jerman Alexander Zverev juga mengecam teknologi serupa melalui unggahan Instagram, yang memperlihatkan bola dinyatakan masuk padahal nyata-nyata keluar.

Kontroversi ini menyoroti ketegangan yang terus berkembang antara efisiensi teknologi dan pentingnya peran manusia dalam olahraga. Seiring meningkatnya adopsi sistem otomatis, diskusi tentang batas dan keseimbangan antara AI dan manusia semakin relevan. 

Menariknya, tren serupa juga terlihat di sektor lain, seperti perusahaan Klarna yang baru-baru ini memutuskan kembali merekrut karyawan manusia setelah sebelumnya mendorong otomatisasi.

(prc/wep)

No more pages