Kenaikan ini, yang lebih cepat dari perkiraan pedagang dan analis, bisa berkontribusi pada surplus pasokan minyak mentah akhir tahun ini, di mana perusahaan-perusahaan Wall Street seperti JPMorgan Chase & Co dan Goldman Sachs Group Inc memperkirakan harga akan turun mendekati US$60 per barel pada kuartal IV-2025.
Kenaikan produksi ini membuat OPEC+ siap mengakhiri pemotongan produksi sukarela oleh delapan anggotanya pada September, yang satu tahun lebih awal dari yang semula direncanakan. Negara-negara tersebut telah mengumumkan kenaikan produksi sebesar 411.000 barel per hari untuk masing-masing Mei, Juni, dan Juli—sudah tiga kali lebih cepat dari yang dijadwalkan.
Harga minyak melonjak di atas US$80 per barel bulan lalu setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan rudal, yang merupakan salah satu eskalasi konflik paling dramatis di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar sebagian besar mengabaikan ketegangan geopolitik sebelumnya yang terkait dengan perang Israel di Gaza dan serangan terhadap Hizbullah karena konflik-konflik tersebut tak menghalangi aliran minyak.
Meski perang yang lebih luas melibatkan Iran bisa mengancam produksi energi dan infrastruktur ekspor, harga minyak mentah Brent turun kembali di bawah US$70 per barel tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Teheran dan Tel Aviv dan membatasi keterlibatan AS dalam perang tersebut.
Permintaan minyak mentah dan produknya sebagian besar tetap stabil di tengah penggunaan musim panas, dengan margin untuk penyuling meningkat. Namun, para pedagang memperkirakan pasar melemah akhir tahun ini karena berkurangnya konsumsi dan peningkatan produksi OPEC+ menyebabkan minyak mentah di penyimpanan surplus.
Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) dan sekutunya diperkirakan akan mengembalikan 2,2 juta barel per hari ke pasar secara keseluruhan tahun ini setelah menghentikan pemotongan sukarela.
(bbn)































