“Sayangnya, banyak uang dan pendapatan dari penjualan minyak Iran digunakan untuk mendanai aktivitas jahat Iran di kawasan,” ujar Baer dalam wawancara tersebut.
Pihak konsulat Iran di Shanghai dan Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Selama perang 12 hari antara Israel dan Iran, situs militer dan nuklir Iran mengalami kerusakan signifikan, dengan sejumlah komandan senior dan ilmuwan atom Iran tewas.
Amerika Serikat menjadi penengah dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pekan lalu. Namun, Teheran menyatakan skeptis terhadap keberlangsungan gencatan senjata tersebut dan menegaskan siap membalas jika Israel kembali melakukan serangan.
China dan Rusia—dua mitra utama Iran di kancah global—sama-sama mengecam serangan Israel, tetapi tak banyak memberikan dukungan nyata kepada Teheran. Beijing secara konsisten menyerukan agar Israel mengakhiri konflik di Gaza dan mengambil langkah menuju solusi dua negara untuk Palestina, sebuah gagasan yang menurut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan mengancam keamanan Israel.
China membeli sekitar 90% dari ekspor minyak Iran, yang jumlahnya sekitar 1,7 juta barel per hari. Selain itu, Beijing menandatangani kemitraan strategis pada 2021 yang mencakup potensi investasi China sebesar US$400 miliar di Iran selama 25 tahun.
“Mereka bisa menekan Iran, mereka punya kekuatan politik atas Iran, mereka bisa membantu mengubah aktivitas jahat Iran di kawasan,” kata Baer. “Ada banyak hal yang bisa dilakukan China.”
Meski begitu, hanya sedikit bukti yang bisa menunjukkan bahwa China mampu memengaruhi strategi militer dan nuklir Iran secara signifikan. Walaupun Teheran mempererat hubungan dengan Beijing dan Moskow dalam beberapa tahun terakhir, Iran selalu menolak campur tangan asing dalam keputusan kebijakan utamanya.
Selain itu, Presiden Xi Jinping kemungkinan lebih memilih fokus pada hubungan ekonomi dalam berurusan dengan Iran.
“Saya tidak berpikir China tertarik menjadi mediator antara Israel dan Iran,” kata Baer. “Menjadi mediator adalah tanggung jawab besar, butuh banyak uang dan keputusan sulit.”
Baer menambahkan bahwa hubungan Israel dengan China—mitra dagang terbesar kedua Israel setelah AS—tidak memburuk secara signifikan meskipun terjadi konflik sejak 2023.
“Kami masih berdiskusi dengan baik,” ujarnya. “Meski ada perbedaan politik, bukan berarti kita tidak bisa bekerja sama.”
(bbn)






























