Ketiga, lebih lanjut Mu'ti, alasan anak-anak putus sekolah setingkat SMA karena alasan kultural. Di mana sebagian putus sekolah karena pernikahan dini.
"Karena memang ada realitas di mana pernikahan dini di Tanah Air kita ini masih sangat tinggi, sebagian karena alasan budaya. Yang kedua, alasan kultural itu berkaitan tentang pendidikan dan kesejahteraan," jelas Mu'ti.
Kemudian dia menyebut bahwa di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) masih banyak yang putus sekolah karena mereka sudah bisa bekerja, mendapat penghasilan yang lumayan tinggi tanpa harus sekolah. Di mana mereka bekerja di sektor-sektor pertambangan.
"Dan ternyata yang dialami di NTB itu hampir sama, tidak usah sekolah, kemudian mendapat pendapatan yang tinggi. Mereka bisa mendapatkan antara 300 sampai 350 ribu per hari. Kalau bekerja 20 hari saja, maka bisa mendapatkan antara 6 sampai 7 juta per bulan," kata Mu'ti.
"Itu sudah lumayan, itu saya kira sudah lebih tinggi dari gaji guru honorer yang belum bersertifikasi," sambung dia.
(far/spt)






























