Target tersebut merupakan angka sementara, yang bisa dinaikkan jika permintaan baterai global naik. Direktur Utama IBC Toto Nugroho mengeklaim saat ini Jepang, India, dan Amerika Serikat (AS) sudah menyatakan minatnya untuk mejadi pembeli atau offtaker baterai CATL yang diproduksi di Indonesia.
Industri Lokal
Di sisi lain, Wahyu menjelaskan tren kelebihan pasokan baterai global juga mengancam pertumbuhan industri lokal.
Penyebabnya, tekanan harga baterai dapat mempersulit pemain lokal lain untuk berkembang atau bersaing di pasar baterai EV, bahkan jika kongsi CATL-IBC bertujuan untuk melayani pasar domestik.
Permintaan EV yang tidak sekencang ekspektasi awal juga akan menjadi risiko lain yang harus diantisipasi CATL dan IBC, yang sudah merencanakan kapasitas produksi kumulatif di Indonesia sebesar 15 GW atau 7.5 GW pada tahap awal.
“Pabrik di Indonesia mungkin beroperasi di bawah kapasitas penuh meskipun proyeksi jangka panjang menunjukkan kenaikan demand EV,” terang Wahyu.
Kondisi tersebut selanjutnya akan berdampak pada produksi yang di bawah kapasitas terpasang, sehingga meningkatkan biaya produksi per unit atau fixed cost spread over fewer units, mengurangi efisiensi, dan menekan profitabilitas.
“Ini juga bisa berarti penyerapan tenaga kerja akan lebih rendah dari yang diharapkan,” ujarnya. Proyek tersebut, padahal, digadang-gadang menyerap total 35.000 tenaga kerja, di mana 8.000 di antaranya merupakan serapan langsung.
Penurunan Harga
Lebih jauh, Wahyu memproyeksikan penurunan harga baterai EV secara keseluruhan akan tetap persisten.
Pembangunan pabrik CATL di Tanah Air memang baik untuk memacu adopsi EV, tetapi nilai tambah yang diperoleh Indonesia dari hilirisasi nikel menjadi baterai kemungkinan lebih rendah dari perkiraan awal jika harga baterai terus turun.
Menurutnya, jika harga baterai lesu, pendapatan dari ekspor baterai atau penjualan domestik juga akan berkurang dan membatasi potensi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Penurunan profitabilitas mungkin membuat CATL atau investor lain kurang tertarik untuk melakukan investasi lebih lanjut di Indonesia untuk kapasitas yang belum disetujui, misalnya, dari 7.5 GW ke 15 GW,” jelas Wahyu.
Dalam sebuah kesempatan terpisah, PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) tidak menampik pertumbuhan permintaan produk hilirisasi nikel untuk bahan baku baterai EV masih di bawah ekspektasi. Komoditas mineral andalan RI itu lebih banyak terserap untuk industri properti China sebagai bahan baku baja nirkarat.
"Jadi [tahun] kemarin sama tahun ini growth [penjualan] EV sekitar 18%-an. Masih ada pertumbuhan, tetapi itu sebenarnya di bawah proyeksi growth yang mungkin di 22%," ujar Dilo Seno Widagdo, yang saat itu masih menjadi Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha MIND ID, usai kegiatan Commodities Outlook, akhir November.
Menurutnya, pertumbuhan EV yang tidak sesuai harapan juga berkaitan dengan kebijakan proteksi dari sejumlah negara.
Ada prospek dari industri lain yang membutuhkan baja nirkarat atau stainless steel seperti properti. Apalagi, menurut Dilo, sektor properti di negara besar seperti China dan India masih memiliki geliat, meski belum pesat.
Untuk diketahui, gelombang proyek pabrik baterai yang sedang dibangun di seluruh dunia diproyeksi menghasilkan sel baterai jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan perekonomian global, BloombergNEF memperingatkan dalam sebuah laporan.
Permintaan sel litium-ion berkembang pesat, seiring dengan produsen mobil yang melakukan elektrifikasi pada armadanya dan perusahaan utilitas memasang baterai berukuran besar untuk menstabilkan jaringan listrik.
Namun, para produsen telah mengumumkan begitu banyak pabrik baru sehingga kapasitasnya akan melebihi permintaan selama sisa dekade ini, menurut BNEF.
Pada akhir 2025, industri baterai global akan mampu memproduksi sel baterai lima kali lebih banyak dari yang dibutuhkan dunia pada tahun tersebut, demikian perkiraan BNEF dalam Electric Vehicle Outlook.
Di sisi lain, penjualan EV diramal meningkat dari 13,9 juta pada 2023 menjadi lebih dari 30 juta pada 2027 dalam skenario transisi ekonomi BloombergNEF.
Namun, dalam empat tahun ke depan, penjualan mobil listrik diproyeksikan tumbuh rata-rata hanya sebesar 21% per tahun, dibandingkan dengan rata-rata 61% antara 2020 dan 2023.
Pangsa EV global dalam penjualan kendaraan penumpang diproyeksikan baru melonjak menjadi 33% pada 2027, dari 17,8% pada 2023.
Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan peletakan batu pertama pembangunan proyek EV garapan CATL dan IBC di Kawasan Artha Industrial Hills (AIH), Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025).
Proyek tersebut memiliki nilai investasi US$6 miliar (sekitar Rp97,07 triliun asumsi kurs saat ini).
Prabowo menyebut pembangunan pabrik baterai EV tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah dalam mencapai swasembada energi. Dalam kaitan itu, dia menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam 5—7 tahun mendatang.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan baterai kendaraan listrik CATL yang dihasilkan dari Proyek Dragon di Indonesia bisa digunakan untuk melistriki 300.000 EV dari kapasitas produksi 15 GW.
“Ini kalau dikonversi ke mobil, itu kurang lebih sekitar 250.000—300.000 mobil,” ujarnya di sela acara peletakan batu pertama ekosistem baterai terintegrasi konsorsium IBC, Antam, dan CBL di Karawang, kemarin.
Tidak hanya itu, Bahlil mengeklaim Proyek Dragon akan memiliki efek pengali atau multiplier effect hingga mencapai US$45 miliar (sekira Rp728,09 triliun asumsi kurs saat ini) per tahun terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Dan setiap tahun, ketika harganya naik, [efek pengali] itu naik lagi,” ujarnya.
Ekosistem baterai CATL-IBC yang juga dijuluki Proyek Dragon tersebut terdiri dari enam subproyek, di mana lima di antaranya dikembangan di kawasan Halmahera Timur, Maluku Utara dan satu proyek dikembangkan di Karawang, Jawa Barat.
Proyek baterai EV itu dijalankan melalui perusahaan patungan CATL, Brunp, dan Lygend yaitu Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd (CBL).
Kemudian Konsorsium CBL menggandeng IBC yang mewakili pemerintah Indonesia termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, bekerja sama dalam proyek hilirisasi ini.
Proyek dijalankan melalui serangkaian pembentukan joint venture (JV) yang mencakup tiga tahap industri yaitu hulu (tambang), antara (pengolahan), dan hilir (produksi dan daur ulang baterai).
(mfd/wdh)





























