Cuma rupiah yang tergerus kini dengan pelemahan sebesar 0,02% menyentuh Rp16.210/US$.
Sementara indeks dolar AS, DXY, yang mengukur kekuatan the greenback terhadap enam mata uang utama dunia, bertahan di kisaran 97,22, yang merupakan level terlemah sejak Februari 2022 silam.
Secara teknikal nilai rupiah memiliki level support di Rp16.250/US$ dan selanjutnya Rp16.300/US$ hingga Rp16.310/US$ sebagai support terkuat.
Sementara bila ada penguatan, rupiah memiliki level resistance di Rp16.180/US$ yang menjadi resistance pertama dengan target penguatan kedua akan melaju Rp16.150/US$.
Apabila kembali break kedua resistance tersebut dengan optimis, terlebih lagi di sepekan perdagangan ke depan, rupiah berpotensi menguat lanjutan dengan menuju level Rp16.070/US$ sebagai resistance potensial di MA-200.
Dana asing keluar
Kelesuan rupiah di awal perdagangan pasar spot pekan ini, terjadi ketika indeks saham domestik dibuka hijau. IHSG menguat 0,56% akan tetapi setelah itu berbalik tertekan dengan pelemahan 0,22% menyentuh lagi level 6.882,3.
Di pasar surat utang negara, seperti ditunjukkan oleh data realtime OTC Bloomberg, sebagian tenor SUN mencatat penurunan tingkat imbal hasil alias yield.
Yield 2Y terpangkas 1,8 bps. Sedangkan yield tenor 10Y turun tipis 0,9 bps.
Pelemahan rupiah dibayangi oleh arus keluar modal asing sepanjang bulan ini yang masih besar. Bahkan di pasar surat utang negara, tren net buy asing yang terjadi selama Desember lalu, kemungkinan besar terjegal pada Juni ini.
Berdasarkan data Bloomberg, selama Juni sampai perdagangan pada 24 Juni lalu, investor asing membukukan posisi net sell US$ 531,8 juta atau sekitar Rp8,95 triliun month-to-date.
Adapun di pasar saham, hingga perdagangan terakhir pekan lalu, investor asing masih mencetak posisi net sell senilai US$ 489,3 juta month-to-date.
Pekan ini, kalender ekonomi cukup padat. Di pasar global, perhatian pasar akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS dan manufaktur di banyak negara.
Sedangkan dari dalam negeri, akan ada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni, juga laporan kinerja ekspor impor serta neraca perdagangan pada bulan Mei.
Konsensus pasar sejauh ini memperkirakan, inflasi IHK Indonesia pada Juni sebesar 0,13% setelah pada Mei terjadi deflasi 0,37%. Secara tahunan, inflasi Juni diprediksi naik lagi 1,81% setelah melambat di 1,61% pada bulan sebelumnya. Inflasi inti diperkirakan sedikit naik jadi 2,42% pada bulan Juni.
Adapun kinerja dagang pada Mei, konsensus pasar memprediksi ekspor turun 1,8% setelah pada April tumbuh 5,76%. Sedangkan impor RI pada Mei diperkirakan melemah dengan pertumbuhan 0,9%, setelah pada April melonjak 21,84%.
Konsensus pasar memperkirakan neraca dagang RI akan mencetak surplus lebih besar yaitu mencapai US$ 2,4 miliar setelah pada April hanya surplus US$ 159 juta.
Sebelumnya, data aktivitas manufaktur RI pada Juni juga akan jadi perhatian setelah dalam dua bulan beruntun kinerjanya terjebak di zona kontraksi.
(rui)



























