Negosiasi Alot
Bahlil tidak menampik upaya mewujudkan investasi CATL di proyek ekosistem baterai Tanah Air tidaklah mudah. Bahkan, menurutnya, negosiasi investasi Proyek Dragon sangat alot lantaran pihak CATL dan Kementerian Perindustrian pada awalnya memiliki visi yang berbeda.
Proyek Dragon sudah berjalan selama 4 tahun, tetapi Bahlil menyebut terdapat masa mengambang selama 3 tahun dengan segala pasang-surut negosiasi yang rumit antara konsorsium CATL dengan perwakilan pemerintah.
“Berkat arahan Bapak Presiden Prabowo, dalam ratas kita pada April, arahannya tegas memutuskan untuk segera dijalankan. Atas perintah itulah, kami dari Satgas [Hilirisasi] langsung eksekusi, tidak ada lagi persoalan dan hari ini bisa sama-sama kita saksikan groundbreaking-nya,” tegas Bahlil.
Gagasan awal proyek ekosistem baterai terintegrasi tersebut, lanjut Bahlil, muncul saat Indonesia selaku negara berbasis sumber daya alam (SDA) mencari mitra yang memiliki teknologi dan pangsa pasar yang bisa mengembangkan hilirisasi nikel.
“Dari bahan baterai—nikel, mangan, kobalt, dan litium — yang kita tidak punya hanya litium. Teknologi juga memang belum terlalu kita miliki secara komprehensif. Karena itu, kita lakukan kerja sama dengan teman-teman dari China, khususnya CATL,” ujarnya.
Dia pun menyebut nilai investasi dari Proyek Dragon mencapai US$6 miliar (sekitar Rp97,07 triliun asumsi kurs saat ini).
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dipastikan bakal terlibat dalam proyek ekosistem baterai kendaraan listrik yang digarap IBC bersama entitas CATL.
Bahlil dalam kesempatan terpisah di Istana Negara pada akhri Mei mengumumkan Danantara resmi mengambil peran untuk menyokong posisi IBC di megaproyek baterai terintegrasi dari hulu ke hilir yang juga disebut Proyek Dragon tersebut.
“Menyatu dengan CATL, alhamdullilah Danantara juga masuk. Tadinya diambil oleh IBC, tetapi sudah diinjeksi oleh Danantara dan pemegang saham hulu di mining-nya 51% oleh Antam, Danantara juga,” ujarnya usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, Kamis (22/5/2025) petang.
Bahlil saat itu sudah menyinggung bahwa pemerintah menginginkan porsi pemerintah yang diwakili oleh IBC di lini hilir proyek tersebut juga ditingkatkan melalui keterlibatan Danantara.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menambahkan pemerintah sudah melakukan pertemuan bersama dengan perwakilan CATL dan membahas ihwal keterlibatan Danantara di proyek baterai tersebut.
“Kalau dahulu mungkin ada kendala pendanaan, tetapi sejak ada Danantara ini pendanaan ini kita yang membantu, karena kita melihat proyek ini memang sangat-sangat baik dari sisi return-nya,” ujar Rosan, yang juga merupakan Kepala BPI Danantara.
Selain prospektif secara bisnis, Rosan menyebut Proyek Dragon yang disokong Danantara juga prospektif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang; terutama di bidang hilirisasi nikel yang merupakan keunggulan kompetitif Indonesia.
'Green Package'
Rosan juga mengatakan proyek baterai bersama CATL tersebut nantinya akan berkonsep ‘green package’, yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan dari tingkat hulu hingga hilirnya.
Investasi CATL di Proyek Dragon dilakukan lewat Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), usaha patungan bersama dengan Brunp dan Lygend. Dua perusahaan yang disebut terakhir punya keahlian pada pembuatan bahan baku baterai setrum.
Sementara itu, IBC menjadi perwakilan dari sejumlah BUMN yang mengambil bagian pada rencana investasi konsorsium CBL tersebut.
Saham IBC dipegang oleh Antam dengan porsi 26,7%, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sebesar 26,7%, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dengan porsi 19,9%, serta PT Pertamina New & Renewable Energy dengan bagian 26,7%.
IBC bersama dengan konsorsium CBL telah menandatangani sejumlah usaha patungan atau joint venture (JV) pada beberapa tahap bisnis baterai EV itu dari sisi hulu atau upstream tambang, antara atau midstream, sampai hilir atau downstream berupa pabrik sel baterai.
Di sisi hulu, terbentuk 3 usaha patungan di antaranya PT Sumber Daya Arindo (SDA), yang mengelola tambang nikel. Antam memegang 51% saham sementara sisanya dipegang afiliasi CBL, Hongkong CBL Limited (HKCBL).
Selanjutnya, usaha patungan di sisi RKEF dan kawasan industri lewat PT Feni Haltim (PFT), dengan porsi saham Antam 40%.
Sementara itu, Antam memegang saham 30% untuk usaha patungan pabrik hidrometalurgi atau HPAL.
Adapun, usaha patungan lainnya dikerjakan IBC bersama dengan CBL meliputi bahan baku baterai, perakitan sel baterai hingga daur ulang.
IBC cenderung memiliki saham minoritas pada lini kerja sama midstream sampai hilir ini. IBC memegang saham 30% untuk proyek pengolahan bahan baku baterai dan perakitan sel baterai. Sementara itu, IBC mendapat bagian 40% saham untuk usaha patungan di sisi daur ulang baterai.
(wdh)






























