Selebriti seperti bintang reality show Kim Kardashian dan Lisa dari mega grup K-Pop BLACKPINK telah memamerkan koleksi Labubu mereka, semakin meningkatkan status kultus boneka tersebut. Bahkan aktor Brad Pitt dan para pemeran film barunya F1 The Movie membuat video TikTok saat membuka mainan itu sambil mempromosikan proyek tersebut bulan ini.
Morgan Stanley kini menyebut Pop Mart sebagai salah satu merek global dengan pertumbuhan tercepat di dunia yang pernah tercatat, dan perusahaan ini memiliki nilai pasar sekitar US$43 miliar (Rp695 triliun). Sahamnya telah melonjak 182% sepanjang tahun ini. Penjualan luar negeri diperkirakan akan melampaui penjualan domestik pada tahun 2025, menurut perusahaan sekuritas tersebut.
Fenomena ini menandai terobosan langka budaya pop China ke pasar arus utama Barat, yang selama ini didominasi oleh raksasa seperti Walt Disney Co. dan pemilik Hello Kitty, Sanrio Co. Pop Mart memanfaatkan tren koleksi global yang didorong oleh media sosial melalui video “haul” dan unboxing mainan, sekaligus membalik model ritel tradisional: perusahaan ini menjaga biaya produksi tetap rendah dan menjual sebagian besar produknya melalui toko milik sendiri, dengan mengandalkan strategi langsung ke konsumen yang memangkas peran perantara.
“Ada kecenderungan yang semakin besar di kalangan konsumen untuk mencari ‘dopamin’—sumber kebahagiaan—yang bersifat terfragmentasi, instan, dan terjangkau di era internet seluler dan media sosial,” kata Chen Luo, kepala riset konsumen China di BofA Global Research.
“Kami percaya tren seperti ini akan terus berlanjut dalam jangka menengah hingga panjang.”
Banyak mainan dijual dengan harga lebih tinggi di pasar Barat dibandingkan di dalam negeri China. Pop Mart dapat meraih margin hingga sekitar 75% di AS, bahkan dengan tarif bea masuk, menurut Morgan Stanley, yang memproyeksikan bahwa penjualan di Amerika Utara akan menyamai China pada 2028–2029. Pop Mart diperkirakan akan membukukan penjualan sebesar $6 miliar pada 2027 — peningkatan lebih dari 500% dari tahun 2023.
Labubu hadir dalam berbagai ukuran serta puluhan kostum dan aksesori, mendorong para penggemar untuk mengoleksi semuanya. Pop Mart menjual banyak mainannya dalam bentuk blind box — kotak misteri di mana pembeli tidak tahu karakter mana yang akan didapatkan — sehingga mendorong pembelian berulang demi mengejar karakter tertentu.
Satu blind box Labubu seukuran gantungan kunci saat ini dijual daring seharga 99 yuan ($14) di China daratan, dibandingkan dengan US$28 di AS.
Keberhasilan pesat Pop Mart di Barat terlihat menonjol di tengah meningkatnya ketegangan dagang, karena perusahaan ini menghindari pembatasan ekspor yang menantang banyak perusahaan China seperti Huawei Technologies Co. Sementara produsen kendaraan listrik China mengalami penurunan penjualan tahunan pertama mereka di Eropa pada 2024 akibat gesekan perdagangan, Pop Mart justru memperluas jejak globalnya dengan sedikit hambatan politik.
Pop Mart tidak menanggapi permintaan komentar yang dikirim melalui email.
Pasar Arus Utama AS
Konsumen di seluruh AS, Eropa, dan Australia mengantre demi kesempatan memamerkan pembelian Labubu terbaru mereka di TikTok dan Instagram milik Meta. Kegilaan ini terbukti tetap kuat meskipun ada kenaikan biaya hidup dan ketegangan perdagangan.
Ekspansi Pop Mart di Barat memanfaatkan permintaan tersebut, dengan lebih dari 70% penjualannya di Eropa dan AS kini berasal dari konsumen lokal — bukan lagi dari ekspatriat China atau turis — menurut catatan China Merchants Securities International.
Pendapatan dari Amerika melonjak sekitar 900% secara tahunan pada kuartal pertama 2025, sementara Eropa naik sekitar 600% dalam periode yang sama — melampaui pertumbuhan sekitar 100% yang tercatat di China daratan, kata Pop Mart dalam pembaruan bisnis bulan April.
Bisnis luar negeri juga terbukti lebih menguntungkan: margin laba kotor sekitar tujuh poin persentase lebih tinggi dibandingkan di China daratan. Pasar di luar daratan menyumbang hampir 39% dari total pendapatan perusahaan pada akhir 2024.
Hingga titik itu, perusahaan telah membuka lebih dari 100 toko di luar China daratan, termasuk gerai pengalaman di Museum Louvre Paris dan ruang bertema K-Pop di Seoul.
Pop Mart berencana membuka sekitar 100 gerai lagi di luar China daratan pada 2025, menurut pernyataan resmi perusahaan di akun WeChat resminya pada bulan Maret.
Meski begitu, ketergantungan Pop Mart pada Labubu bisa menjadi titik lemah. Karakter lainnya belum mampu menimbulkan kegilaan global yang sama, menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan jangka panjang. Pembeli di Tiongkok sudah menghadapi lonjakan harga jual kembali dan banjir produk tiruan.
Saham Pop Mart sempat turun di Hong Kong pada bulan Juni setelah media pemerintah China menyerukan pengawasan yang lebih ketat terhadap blind box, yang memicu kekhawatiran terhadap bisnis Labubu. Dan tidak seperti raksasa kekayaan intelektual mapan seperti Disney dan Sanrio, karakter-karakter Pop Mart belum memiliki alur cerita abadi yang bisa bertahan lintas generasi.
“Model bisnis Pop Mart bergantung pada keberhasilan menggandakan produk-produk yang viral — dan mereka terlalu bergantung pada satu atau dua produk yang meledak di pasaran,” kata Chen Da, pendiri firma konsultasi investasi Dante Research.
“Kita tidak pernah tahu apakah dukungan selebritas bisa benar-benar menghasilkan produk viral berikutnya.”
(bbn)































