Logo Bloomberg Technoz

Xiaomi menawarkan tiga pilihan warna: Hitam, Coklat, dan Hijau, dengan harga peluncuran di China sebesar 1.999 Yuan atau sekitar US$278 (Rp4,5 jutaan). Meski demikian, belum ada informasi resmi apakah perangkat ini akan dipasarkan di luar China.

Xiaomi Ramaikan Pasar Kacamata Pintar yang Tengah Tren

Meta x Ray-Ban jadi pihak yang mempopulerkan perangkat kacamata pintar. Sejak 2021 keduanya berkolaborasi hingga perusahaan Mark Zuckerburg membuat versi terbaru dengan menggandeng Oakley.

Mengutip Bloomberg News, dengan ditenagai sistem Meta AI, Oakley Meta HSTN dibekali kamera beresolusi 3K, menjadikannya salah satu perangkat dengan kualitas video tertinggi di kelasnya. Selain itu, kacamata ini memiliki baterai yang mampu bertahan hingga 8 jam penggunaan aktif dan 19 jam dalam mode standby, dengan dukungan casing pengisian daya yang menambah total cadangan daya hingga 48 jam. Untuk pengisian cepat, pengguna cukup melakukan pengisian selama 20 menit untuk mendapatkan daya hingga 50%.

Kacamata Pintar Oakley X Meta (Oakley Meta HSTN) rilis dengan harga US$399. (Bloomberg)

Soal audio juga diperkuat lewat speaker open-ear bawaan, yang memungkinkan pengguna mendengar suara sekitar tanpa mengorbankan kualitas audio, serta mikrofon hands-free untuk merekam suara dan memberi perintah suara. Fitur tahan cipratan air dengan sertifikasi IPX4 menjadikan perangkat ini aman digunakan dalam berbagai aktivitas luar ruangan.

Kacamata baru ini dibanderol mulai dari US$399 (Rp6,4 jutaan), dengan pilihan Desert 24k Prizm Polar edisi terbatas seharga US$499 (Rp8 jutaan). Warna bingkainya meliputi abu-abu hangat, hitam, bening, dan cokelat berasap. Sepasang kacamata edisi terbatas ini tersedia untuk dipesan mulai Jumat, 11 Juli, sedangkan kacamata lainnya akan tersedia akhir musim panas ini.

Sementara itu, Google, meskipun menjadi pelopor melalui Google Glass, menghadapi kegagalan komersial karena berbagai kendala teknis dan sosial. Pernyataan ini disampaikan oleh salah satu pendiri Google yakni Sergey Brin yang mengakui "membuat banyak kesalahan" dalam pengembangan Google Glass, proyek kacamata pintar pertama Google yang kini telah dihentikan.

Pernyataan ini disampaikan Brin secara terbuka dalam sesi wawancara di acara Google I/O 2025, Selasa (20/5/2025) waktu setempat, di mana ia hadir sebagai kejutan bersama CEO Google DeepMind Demis Hassabis, dan pembawa acara Alex Kantrowitz dari Big Technology Podcast, sebagaimana mengutip dari TechCrunch, Rabu (21/5/2025).

"Saya tidak tahu apa-apa tentang rantai pasokan elektronik konsumen," ujar Brin sambil mengenang tantangan dalam mewujudkan Google Glass lebih dari satu dekade lalu. Ia juga menyoroti betapa sulitnya merancang kacamata pintar yang fungsional dengan harga yang masuk akal.

Meskipun proyek Google Glass dinilai gagal, Brin tetap menyatakan keyakinannya pada potensi form factor kacamata pintar. "Saya sangat percaya pada masa depan teknologi ini," ucapnya, sembari mengungkapkan kegembiraannya bahwa Google kini kembali mengembangkan kacamata pintar dengan dukungan "mitra hebat."

Kehadiran Brin bertepatan dengan peluncuran upaya terbaru Google dalam mengembangkan kacamata pintar Android XR. Perangkat ini didukung oleh teknologi AI canggih dari Project Astra milik DeepMind, dengan kemampuan seperti penerjemahan waktu nyata, navigasi interaktif, hingga tanya jawab berbasis AI.

Untuk mewujudkan ambisi ini, Google bermitra dengan sejumlah perusahaan terkemuka seperti Samsung dan Xreal, serta menjalin kolaborasi strategis dengan produsen kacamata Warby Parker, termasuk investasi hingga US$150 juta (Rp2,44 miliar) dan kepemilikan saham.

Brin menekankan, kolaborasi dengan perusahaan yang sudah berpengalaman di bidang optik dan perangkat keras akan membantu Google mengatasi tantangan rantai pasokan yang sebelumnya menghambat Google Glass.

Ia juga mencatat bahwa kemajuan dalam AI generatif telah membawa potensi baru bagi kacamata pintar, menjadikannya lebih relevan dan fungsional dibanding masa lalu.

(prc/wep)

No more pages