Menurut dr Ruri hal ini sering terjadi pada orang dengan warna kulit sawo matang hingga gelap, termasuk banyak masyarakat Indonesia.
Selain itu dia juga menjelaskan alergi kulit adalah reaksi sistem imun terhadap zat tertentu yang dianggap “berbahaya” oleh tubuh, meskipun sebenarnya tidak.
“Gejalanya bisa bervariasi,”.
Gejala alergi kulit yang biasa umumnya terjadi yakni kulit merah atau ruam, gatal hebat, pembengkakan, kulit terasa panas, kering, atau melepuh hingga kadang disertai pengelupasan.
Penyebabnya bisa karena makanan, obat-obatan, bahan kimia (seperti sabun, kosmetik), udara dingin/panas, hingga debu atau bulu hewan.
Menurut dr Ruri untuk penanganannya bergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya.
“Sebisa mungkin dihindari pemicu alergi jika sudah diketahui,”.
Pasien biasanya bisa mendapatkan salep anti-inflamasi seperti kortikosteroid topikal untuk meredakan peradangan. Lalu kemudian, minum antihistamin jika ada gatal dan bentol.
“Jika parah atau berulang, konsultasikan ke dokter kulit atau alergi untuk tes alergi dan terapi jangka panjang,”.
Sedangkan mengenai penyakit autoimun Stevens Jhonson Syndrome (SJS) dikatakan dr Ruri bukan alergi biasa, melainkan karena reaksi imun yang sangat berat terhadap obat-obatan tertentu, sehingga termasuk dalam kondisi hipersensitivitas berat, bahkan bisa bersifat autoimun.
“Meski penyebabnya mirip dengan alergi (karena reaksi terhadap obat), mekanismenya jauh lebih kompleks dan berbahaya,”
Gejala SJS antara lain:
• Demam
• Nyeri tubuh
• Luka atau lepuh di kulit dan selaput lendir (mulut, mata, kelamin)
• Kulit mengelupas, mirip seperti luka bakar
• Bisa menyebabkan komplikasi serius hingga mengancam nyawa
“Jika seseorang mengalami ruam hebat setelah minum obat tertentu, apalagi disertai sariawan parah, mata merah, atau demam, segera cari pertolongan medis,” katanya.
(dec/spt)
































