“Iran, yang selama ini menjadi pengganggu di Timur Tengah, kini harus memilih jalan damai. Jika tidak, serangan selanjutnya akan jauh lebih besar — dan jauh lebih mudah dilakukan.”
Tidak lama selepas pidatonya, Trump kembali mengeluarkan peringatan keras lewat media sosial:
“SETIAP SERANGAN BALASAN DARI IRAN TERHADAP AMERIKA SERIKAT AKAN DIBALAS DENGAN KEKUATAN YANG JAUH LEBIH BESAR DARI APA YANG TERJADI MALAM INI. TERIMA KASIH! DONALD J. TRUMP, PRESIDEN AMERIKA SERIKAT.”
Trump tampil bersama Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Dia mengatakan bahwa Hegseth akan menggelar konferensi pers pada Minggu untuk menjelaskan lebih lanjut soal operasi militer tersebut.
Serangan ini menjadi salah satu keputusan paling krusial dalam masa jabatan kedua Trump di Gedung Putih.
Langkah ini juga meningkatkan eskalasi konflik secara drastis di kawasan, yang berpotensi menjerumuskan Timur Tengah ke dalam perang yang lebih luas. Iran sebelumnya telah memperingatkan akan membalas jika AS ikut campur dalam agresi Israel.
Keputusan ini menjadi pembalikan sikap bagi Trump, yang selama kampanye pemilu menjanjikan untuk menjauhkan AS dari konflik luar negeri dan mengkritik keras intervensi militer seperti perang di Irak dan Afghanistan.
Trump menegaskan bahwa kebijakan jangka panjangnya adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Dia mengatakan serangan ini sebagai puncak dari upayanya mengakhiri program nuklir Iran, menghentikan ancaman terhadap Israel, dan melindungi kepentingan AS di kawasan.
“Selama 40 tahun Iran meneriakkan ‘kematian bagi Amerika, kematian bagi Israel.’ Mereka membunuh warga kami, memutus lengan dan kaki mereka dengan bom pinggir jalan,” kata Trump.
“Saya sudah lama memutuskan hal ini tak boleh terus terjadi. Ini harus dihentikan.”
Israel telah mendorong AS untuk terlibat langsung dalam serangan militer untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, termasuk penggunaan bom penghancur bunker bawah tanah yang tidak dimiliki Israel.
Sebelumnya, keterlibatan AS dibatasi hanya untuk membantu pertahanan udara Israel dari serangan rudal dan drone Iran.
Sejumlah tokoh Partai Republik, termasuk Senator Lindsey Graham, turut mendorong aksi militer, menyebut saat ini sebagai momen yang tepat untuk menghantam Iran ketika negara itu dalam posisi lemah.
Namun, serangan ini juga membuka perpecahan di dalam tubuh Partai Republik. Kelompok sayap kanan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) menolak keterlibatan AS dalam konflik asing.
Tokoh pro-Trump seperti Steve Bannon, mantan presenter Fox News Tucker Carlson, dan anggota Kongres Marjorie Taylor Greene terang-terangan mengkritik serangan tersebut.
“Ini bukan perang kita,” tulis Greene di platform X.
Sebelumnya, Trump sempat membuat publik bertanya-tanya mengenai sikapnya. Dia mengatakan akan mengambil keputusan akhir dalam dua minggu—jangka waktu yang dinilai terlalu panjang mengingat cepatnya eskalasi konflik.
Namun pada Jumat, Trump memberi sinyal akan bertindak lebih cepat dan menegaskan bahwa pengiriman pasukan darat bukan opsi yang dipilih.
Pernyataan Trump muncul setelah upaya diplomatik melalui pertemuan menteri luar negeri Iran, Jerman, Prancis, dan Inggris di Jenewa gagal mencapai terobosan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran hanya bersedia melanjutkan dialog jika Israel menghentikan serangannya.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan bahwa serangan AS akan membawa “kerugian yang tidak dapat diperbaiki bagi mereka.”
Sebelum Israel melancarkan serangan awal pekan lalu, Trump berulang kali menyatakan lebih memilih jalur diplomatik dan ingin menegosiasikan perjanjian nuklir baru dengan Iran.
Putaran keenam perundingan nuklir antara AS dan Iran yang dijadwalkan akhir pekan ini dibatalkan setelah Israel melancarkan serangan pertama. Pada akhir pekan, Trump mengatakan kesabarannya telah habis dan menegaskan bahwa sudah terlambat bagi Teheran untuk mundur.
(bbn)
































