Khalaf Al Habtoor, konglomerat real estat ternama Dubai, mengungkapkan kekhawatirannya melalui platform X pada Rabu (18/6/2025). Ia menyebut bahwa kawasan saat ini menghadapi “ancaman strategis nyata” dan menyerukan tindakan preventif kolektif dari PBB, badan atom internasional, serta negara-negara besar.
“Timur Tengah membutuhkan ketenangan, bukan eskalasi; kerja sama, bukan konflik,” tulisnya.
Mitesh Parikh dari Schonfeld Strategic Advisors di UEA juga memperingatkan bahwa pelaku pasar mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan risiko yang ada.
Gangguan mulai terasa. American Airlines menangguhkan penerbangan dari AS ke Doha, sementara United Airlines menghentikan sementara rute ke Dubai akibat ketegangan yang meningkat.
Indeks MSCI GCC Countries Combined turun 3,7% sejak 12 Juni hingga penutupan Rabu, tertinggal dari S&P 500 dan MSCI Emerging Markets Index. Indeks saham utama Dubai menjadi yang paling terpukul, anjlok lebih dari 5% selama periode tersebut.
Seorang pimpinan kantor global di Dubai mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengirim keluarganya pulang ke negara asal hingga situasi membaik. Beberapa eksekutif lain juga mengaku terus menjalin komunikasi dengan kantor pusat untuk menyiapkan rencana darurat. Seorang eksekutif senior real estate mengatakan ia berencana meninggalkan Dubai untuk sementara waktu.
Sementara itu, hubungan AS dan negara-negara Teluk seperti UEA, Qatar, dan Arab Saudi tetap erat. UEA menampung ribuan personel militer AS, dan Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Riyadh menjadi markas utama Angkatan Udara AS. Qatar juga menjadi tuan rumah pangkalan besar AS di kawasan, sementara Armada Kelima AS bermarkas di Bahrain.
AS juga memiliki pangkalan militer di tempat-tempat seperti Kuwait dan Irak. Namun, Iran telah mengancam akan menyerang aset AS jika Washington benar-benar melancarkan serangan militer.
Dubai dan Abu Dhabi selama ini menarik bank dan hedge fund global dengan insentif seperti pajak nol persen, zona waktu yang strategis, serta gaya hidup premium. Arab Saudi dan Qatar juga aktif membangun daya tarik keuangan untuk mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan pada minyak.
Bloomberg Economics memperkirakan intervensi AS adalah hal yang paling mungkin.
“Mengapa skenario ini bisa terjadi? 1. Israel tak menunjukkan tanda-tanda mundur, dan sebelumnya pernah menyeret AS ke konflik. 2. Trump dapat melihat ini sebagai kesempatan untuk menghentikan program nuklir Iran. 3. Langkah-langkah Trump belakangan ini, termasuk meninggalkan KTT G7 lebih awal, mengancam Iran, dan memindahkan aset militer AS ke kawasan, mengindikasikan keterlibatan langsung mungkin terjadi," ungkap Ziad Daoud, kepala ekonom pasar berkembang dan Dina Esfandiary, analis geoekonomi Timur Tengah dari Bloomberg Economics.
Arab Saudi, UEA, dan Qatar — tiga ekonomi terbesar Teluk — semuanya mengecam serangan Israel dan menyerukan kembali ke jalur diplomasi.
Sejumlah pelaku pasar berharap situasi bisa terkendali dan AS tidak terlibat lebih jauh. “Biasanya orang merasa sangat aman di sini,” kata Bhaskar Dasgupta dari Sun Foundation di UEA. Ia mengenal satu warga Kanada yang pulang ke Toronto, tetapi mayoritas ekspatriat di Teluk tetap merasa “aman dan nyaman,” ujarnya.
Austen Smart dari Tighe International di Dubai mengatakan meski sebagian orang mengubah rencana liburan karena ketegangan regional, perusahaannya tetap “sangat optimistis terhadap masa depan kawasan yang tangguh.”
Namun, upaya negara-negara Teluk untuk menjaga perdamaian kini berada dalam ancaman nyata.
Harga properti di Dubai meroket dalam beberapa tahun terakhir seiring masuknya ekspatriat, tetapi permintaan bisa melemah jika konflik tak tertahan, menurut Bloomberg Intelligence.
Harga minyak Brent kini berada di kisaran US$77 per barel, naik hampir 19% dibanding sebulan lalu — level yang lebih menguntungkan bagi negara-negara penghasil minyak di Teluk. Meski begitu, laporan S&P Global Ratings pada Senin menyebutkan adanya “peningkatan risiko penurunan” akibat potensi gangguan jalur transportasi, fluktuasi harga energi, turunnya pariwisata dan arus modal, meningkatnya pengeluaran keamanan, serta menurunnya kepercayaan konsumen dan investor.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah mengidentifikasi risiko geopolitik sebagai salah satu risiko utama terhadap kelayakan kredit negara, yang berdampak pada ekonomi global,” tulis analis S&P seperti Benjamin Young.
“Eskalasi konflik Israel-Iran sejak 13 Juni 2025 meningkatkan risiko tersebut dan menjadi tekanan tambahan bagi skenario dasar penilaian kami atas negara-negara di kawasan.”
(bbn)
































