Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, BATAN dan BRIN telah melakukan survei dan studi tapak untuk PLTN di sejumlah lokasi, dengan 28 wilayah potensial. Dari 28 wilayah potensial itu bisa dibangun PLTN dengan kapasitas mencapai 70 GW.

“Berdasarkan wilayah potensial tersebut, serta mengacu kepada kebutuhan sistem kelistrikan nasional, potensi PLTN pada tahap awal direncanakan akan dibangun di sistem Sumatra dan Kalimantan,” tulis PLN dalam dokumen itu.

Grafik pergerakan jumlah reaktor nuklir. (Sumber: Bloomberg)

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menargetkan PLTN di Indonesia dapat beroperasi pada 2030 atau berpeluang lebih cepat dua tahun dari target komersialisasinya yang ditetapkan pada 2032 dan lebih awal dari rencana semula pada 2039.

“Untuk PLTN itu kita mulai on itu 2030 atau 2032. Jadi mau tidak mau kita harus melakukan persiapan semua regulasi yang terkait dengan PLTN," kata Bahlil dalam keterangan resmi Kementerian ESDM dikutip Minggu (20/4/2025). 

Menurut Bahlil, PLTN merupakan energi baru yang murah, dan bisa dimanfaatkan untuk menguatkan sistem kelistrikan nasional. Selain itu, penggunaan nuklir juga akan mengurangi pemanfaatan energi listrik berbahan bakar fosil. 

Proposal Rosatom 

Ihwal potensi bahan baku nuklir itu, PLN belakangan telah menerima sejumlah proposal rencana pengembangan PLTN dari berbagai perusahaan global.

Belakangan, perusahaan setrum negara itu terpincut dengan proposal yang ditawarkan State Atomic Energy Corporation Rosatom, BUMN nuklir Rusia.

EVP Aneka Energi Terbarukan PLN Zainal Arifin mengatakan sejatinya Rosatom sudah mengajukan proposal ke PLN sejak 2019 atau sebelum pandemi Covid 19. Namun memang belum ada informasi lebih jauh.

“Iya [sudah menyatakan ketertarikan], namun ke-pending sampai sekarang,” kata Zainal saat ditemui di sela acara EESA Summit Indonesia, Selasa (29/4/2025).

Dia menjelaskan PLN akan mencoba untuk menindaklanjuti rencana kerja sama dengan Rosatom untuk membangun PLTN. Menurutnya, harga yang ditawarkan oleh Rosatom cukup kompetitif bagi Indonesia.

Grafik jumlah kepemilikan hulu ledak nuklir. (Sumber: Bloomberg)



Tidak hanya itu, Rosatom menawarkan pembangunan PLTN modular kecil atau small modular reactor (SMR) yang sesuai dengan kebutuhan RI. 

“Menarik. Bisa kompetitif sama base load, sama geothermal menarik. [Dari PLN] sudah aman, bagus,” tuturnya.

Dalam pertemuan antarperwakilan bisnis RI-Rusia medio bulan ini, Rosatom mengajukan dua proposal pembangunan PLTN di Indonesia. 

Proposal itu disampaikan Kepala Perwakilan Rosatom di Indonesia Anna Belokoneva dalam Pertemuan Sidang Komisi Bersama ke-13 antara Indonesia dan Rusia di Jakarta pada 14 April 2025.

Opsi pertama, perusahaan pembangkit nuklir asal Rusia itu mengajukan pembangunan PLTN modular atau Small Modular Reactor (SMR) di daerah pedalaman dan PLTN dengan skala besar.

Untuk PLTN modular kecil, Rosatom akan membangunnya di Kalimantan Barat dengan kapasitas 3x110 megawatt (MW). 

Unit I akan dibangun pada 2032, unit II pada 2033, dan unit III dibangun pada 2035. Biaya rata-rata listrik atau levelised cost of energy (LCOE) dari pembangkit ini sekitar US$85 per megawatt/hour (MWh) sampai US$95 per MWh. 

Sementara itu, untuk PLTN skala besar, Rosatom akan membangun dua PLTN di Bangka Belitung dengan kapasitas 2x1.200 MW. Sementara itu, di Kalimantan Selatan dengan kapasitas yang sama yakni 2x1.200 MW.

Dengan demikian, LCOE untuk dua pembangkit skala besar ini di rentang US$65 per MWh sampai dengan US$75 per MWh.

Adapun, Rosatom berencana untuk membangun dua PLTN skala besar tersebut secara bertahap pada 2037 hingga 2040 untuk ke empat pembangkit nuklir tersebut, dibagi ke dalam empat tahapan.

Opsi kedua, Rosatom mengusulkan untuk membangun PLTN terapung di Kalimantan Barat dengan kapasitas 2x110 MW.

PLTN tersebut akan dibangun pada 2030 dan 2031. Adapun, tarif listrik diperkirakan di rentang US$150 per MWh sampai dengan US$190 per MWh.

Selain itu, Rosatom juga mengusulkan untuk membangun dua PLTN skala besar di Bangka Belitung dan Kalimantan Selatan dengan kapasitas masing-masing 2x1.200 MW.

PLTN tersebut akan dibangun secara bertahap mulai pada 2037 untuk unit I, 2038 untuk unit II, 2039 untuk unit III, dan 2040 untuk unit IV.

Rosatom mengajukan perkiraan tarif listrik untuk pembangkit yang disebut terakhir sekitar US$65 per MWh sampai dengan US$75 per MWh.

Kedua proposal pengembangan nuklir yang disampaikan Rosatom itu memiliki kapasitas terpasang mencapai 5 gigawatt (GW) sampai dengan 2040 mendatang.

(naw)

No more pages