Untuk menjawab tantangan ini, Core Power memimpin kolaborasi dengan HD Korea Shipbuilding & Offshore Engineering dan perusahaan pembangkit Southern Co. untuk mengembangkan kapal komersial bertenaga reaktor nuklir.
Meski menghadapi tantangan teknis dan regulasi yang besar serta biaya awal yang tinggi, Boe menyatakan pendekatan ini memiliki potensi menjadikan kapal lebih cepat, efisien, dan mampu mengangkut lebih banyak muatan.
“Ini adalah jawaban atas salah satu teka-teki terbesar di industri ini,” ujar Boe. “Kalau teknologi ini bisa langsung diterapkan, permintaannya akan langsung melonjak tajam.”
Konsorsium yang dipimpin Core ini menargetkan peluncuran kapal bertenaga fisi nuklir pertama pada 2035. Mereka berencana menggunakan reaktor dari TerraPower LLC — perusahaan teknologi iklim yang didukung oleh miliarder Bill Gates — yang dijadwalkan mulai menguji desain reaktornya pada 2029.
Southern, yang tahun lalu menyelesaikan pembangunan pembangkit nuklir baru pertama di AS dalam beberapa dekade, akan turut menyumbangkan keahlian teknisnya.
Inisiatif ini muncul di tengah kebangkitan minat terhadap tenaga nuklir di sektor darat. Permintaan energi meningkat akibat kecerdasan buatan, dan perusahaan teknologi maupun pemerintah kini melirik tenaga nuklir konvensional serta bentuk futuristik seperti reaktor modular kecil dan teknologi fusi — yang juga tengah dikembangkan Core Power.
Reaktor tenaga nuklir laut pertama kali digunakan pada kapal selam AS pada 1955. Sejumlah kapal sipil seperti NS Savannah diluncurkan sejak 1959, namun sebagian besar akhirnya pensiun akibat biaya tinggi dan kendala teknis.
Saat ini, terdapat sekitar 160 kapal di seluruh dunia yang menggunakan teknologi fisi nuklir — sebagian besar untuk keperluan militer seperti kapal induk dan kapal selam, serta kapal pemecah es Rusia di wilayah Arktik.
Namun, target pengurangan emisi mendorong sektor pelayaran untuk meninjau ulang opsi tenaga nuklir, menurut Jose Esteve, pemimpin pasar gas dan energi lepas pantai di Bureau Veritas SA, perusahaan asal Prancis di bidang pengujian produk.
Beberapa perusahaan menjajal bahan bakar bebas karbon seperti amonia, sementara lainnya mencoba menambahkan layar. AP Moller-Maersk A/S asal Denmark sudah mengoperasikan kapal berbahan bakar metanol rendah karbon, dan beberapa lainnya menggunakan hidrogen.
Namun rantai pasok untuk bahan bakar tersebut belum memadai. Esteve ragu semuanya akan siap saat kapal-kapal besar mulai membutuhkannya dalam jumlah besar di setiap pelabuhan.
“Bahan bakar alternatif itu tidak akan tersedia ketika kita membutuhkannya,” kata Esteve. “Setidaknya tidak dengan biaya yang menjadikannya solusi layak.”
Dia justru lebih optimistis bahwa industri nuklir bisa menghadirkan reaktor yang mampu mentransformasi armada global. Esteve memperkirakan uji coba pertama kapal bertenaga atom bisa dilakukan pertengahan dekade depan, dengan adopsi luas menyusul di akhir 2030-an.
Namun, adopsi kapal komersial bertenaga nuklir memerlukan reformasi besar dalam regulasi. Asuransi komersial enggan menanggung kapal bertenaga fisi karena risiko finansial dari kecelakaan nuklir sangat tinggi.
Tanpa asuransi, pelabuhan sipil nyaris mustahil memberikan izin sandar. Ini berbeda dengan kapal militer yang bisa berlabuh di pelabuhan angkatan laut.
Isu keselamatan dan keamanan juga menjadi tantangan utama. George Moore, peneliti di Middlebury Institute of International Studies, California, menyebutkan walau bahan bakar nuklir untuk kapal tidak mengandung uranium tingkat senjata, tetap ada risiko radiasi, pembajakan, hingga sabotase.
Kapal dagang juga umumnya lebih rapuh dibanding kapal militer, sehingga potensi kebocoran radiasi akibat tabrakan lebih tinggi.
Moore menyebutkan bahwa meski regulasi bisa dirancang untuk mengurangi risiko, industri saat ini lebih fokus pada pengembangan teknologi dan peluang pasar.
“Industri belum benar-benar memikirkan seluruh risikonya,” ujarnya. “Ini membuat pengembangan kapal nuklir sangat berisiko.”
Organisasi Maritim Internasional (IMO) bulan ini dijadwalkan membahas revisi kode keselamatan untuk kapal dagang bertenaga nuklir. Mereka juga kemungkinan akan melakukan pemungutan suara pada Oktober terkait sanksi finansial bagi kapal-kapal yang masih mencemari lingkungan.
Teknologi nuklir generasi baru bisa mengurangi sebagian risiko tersebut, kata Moore. Kapal militer umumnya memakai reaktor air bertekanan tinggi, yang bisa menyebarkan material radioaktif secara luas bila terjadi kecelakaan.
Namun TerraPower dan sejumlah perusahaan lain sedang mengembangkan reaktor yang beroperasi pada tekanan normal, sehingga memperkecil zona darurat (emergency planning zone). Targetnya, kata Boe, zona bahaya itu tidak lebih besar dari ukuran kapal.
Jika tantangan-tantangan ini bisa diatasi, kapal nuklir akan menawarkan banyak keunggulan dibanding kapal berbahan bakar fosil maupun ramah lingkungan lainnya.
Boe menyebutkan bahwa sebagian besar kapal saat ini berlayar 30%–40% lebih lambat dari kapasitas maksimum demi menekan emisi dan biaya bahan bakar.
Namun kapal bertenaga nuklir tidak menghasilkan emisi dan tidak perlu membeli bahan bakar, memungkinkan pelayaran dengan kecepatan maksimum.
Artinya, pengiriman lebih cepat dan pendapatan lebih tinggi bagi perusahaan pelayaran. Selain itu, kapal besar butuh tangki bahan bakar besar yang menyita ruang muatan. Kapal nuklir tak memerlukan tangki tersebut, memberi ruang tambahan sekitar 10% untuk kargo.
Keunggulan lainnya adalah efisiensi waktu. Sangmin Park, VP di HD Korea Shipbuilding, menyebut kapal kontainer saat ini menghabiskan sekitar sebulan per tahun hanya untuk mengisi bahan bakar. Reaktor yang dirancang untuk kapal kargo bisa bertahan selama puluhan tahun — seumur hidup kapal itu sendiri.
Pemilik kapal juga akan menghemat pengeluaran karena tidak perlu membeli bahan bakar, meski waktu pengembalian modal akan lebih lama karena biaya awal yang tinggi.
Park memperkirakan harga kapal nuklir bisa dua hingga tiga kali lipat dari kapal biasa, namun dalam jangka waktu 25 tahun, total biayanya akan kurang dari setengah.
“Kapal nuklir bukan cuma solusi untuk emisi, tapi juga untuk efisiensi ekonomi jangka panjang,” kata Park.
(bbn)





























