Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa militer Israel akan "menyerang setiap lokasi dan setiap target rezim Ayatollah," sebagai balasan atas gelombang rudal balistik Iran yang menyerang kota-kota Israel sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi. Tercatat sedikitnya tiga orang tewas.
Iran menanggapi serangan udara Israel yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap fasilitas nuklir, pertahanan udara, dan target lainnya pada Jumat (14/6/2025). Dalam serangan itu, sejumlah komandan militer dan ilmuwan nuklir Iran turut tewas. Israel menegaskan bahwa tujuannya adalah melumpuhkan program nuklir Iran yang dianggap sebagai ancaman serius bagi negaranya.
Akibat memburuknya situasi, Iran membatalkan pertemuan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat yang semula dijadwalkan berlangsung di Oman pada Minggu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan tidak pantas menggelar perundingan di tengah serangan Israel.
Presiden AS Donald Trump, yang ingin mencapai kesepakatan diplomatik yang akan membatasi aktivitas nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi, mengatakan di media sosial bahwa "perang di Israel-Iran ini harus diakhiri."
Negara-negara Teluk Arab juga ikut cemas. Mereka khawatir konflik ini bisa meluas hingga ke wilayah mereka. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, bahkan menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mendesak Iran menahan diri.
Namun, Pezeshkian memperingatkan bahwa Iran akan memberikan "tanggapan lebih keras" jika serangan Israel berlanjut.
Untuk saat ini, sinyal dari Israel yang berhasil melumpuhkan pertahanan udara Iran menunjukkan bahwa serangan masih akan terus berlangsung setidaknya dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, badan pengawas atom PBB melaporkan bahwa serangan Israel terhadap fasilitas konversi uranium Iran di Isfahan mengakibatkan kerusakan serius.Fasilitas ini sangat penting karena menjadi satu-satunya tempat yang memproses uranium menjadi bahan baku sentrifugal, yang digunakan untuk memisahkan isotop uranium untuk kebutuhan pembangkit listrik atau senjata nuklir.
Skala konflik yang makin memanas ini mendorong kedua negara ke level baru dan menunjukkan seberapa jauh mereka siap untuk bertindak.
Ketegangan ini juga berdampak ke pasar keuangan global. Harga minyak melonjak 7% pada Jumat, sementara para investor memburu aset safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah AS. Indeks MSCI World, yang mencerminkan saham-saham negara maju, mencatat penurunan terbesar sejak April.
Militer Israel mengatakan Iran menembakkan 200 rudal dan sekitar 200 drone ke wilayahnya dalam empat gelombang mulai Jumat malam. Meskipun pasukan AS membantu menembak jatuh proyektil, beberapa di antaranya berhasil menembus pertahanan udara negara itu.
Tiga orang tewas di daerah dekat Tel Aviv dan sedikitnya 40 lainnya terluka, menurut polisi dan layanan darurat. Sebuah rekaman video memperlihatan sebuah ledakan besar di Tel Aviv dan laporan ledakan di atas Yerusalem.
Beberapa jenderal top Iran tewas dan infrastruktur militer utama rusak parah dalam serangan pembukaan Israel.
Pejabat Iran mengatakan hampir 80 orang tewas dan lebih dari 320 terluka sejauh ini di seluruh negeri.
Empat lokasi di provinsi Azerbaijan Timur diserang pada Sabtu (14/6/2025), begitu juga dengan Bandara Internasional Mehrabad Teheran, yang menjadi pangkalan angkatan udara Iran dan kantor pusat berbagai maskapai nasional menurut media Iran. Israel juga menghantam beberapa bangunan sipil di pinggiran ibu kota dan depot minyak di sebelah barat kota, menurut laporan tersebut.
Eskalasi lebih lanjut, yang terutama menargetkan fasilitas militer atau diplomatik Amerika di wilayah tersebut dapat membantu penguasa Iran menggalang dukungan politik di dalam negeri, tetapi akan secara dramatis mengintensifkan konflik. Tidak jelas apakah Teheran mempertimbangkan opsi terakhir, seperti menyerang kapal tanker di Selat Hormuz, salah satu jalur minyak vital dunia, sebuah skenario yang akan meningkatkan kekhawatiran di kalangan investor global.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersumpah untuk "bertindak dengan paksa" dan mengatakan Israel "tidak boleh berpikir bahwa hal ini sudah berakhir."
"Kami tidak akan membiarkan mereka lolos tanpa cedera dari kejahatan besar yang telah mereka lakukan ini," katanya.
Sejauh ini, Iran telah memilih untuk menjauhkan AS dari konflik, sebuah keputusan yang menurut analis Bloomberg Economics kemungkinan besar disebabkan oleh perhitungan Teheran bahwa mereka tidak mampu berperang melawan militer terkuat di dunia.
Ekonomi Iran sudah lemah dan frustrasi publik tinggi dengan inflasi yang diperkirakan mencapai sekitar 43% pada akhir tahun ini, menurut IMF [International Monetary Fund].
Selain itu, jaringan milisi sekutu Iran di Timur Tengah juga telah sangat melemah setelah konflik Israel dengan Hamas di Gaza dan Hizbullah yang berbasis di Lebanon. Iran juga kehilangan sekutu regional utama di Suriah, mantan Presiden Bashar al-Assad akhir tahun lalu setelah pemerintahannya jatuh ke pemberontakan.
Kerusakan pada struktur komando militer Iran sangat besar. Kepala Korps Garda Revolusi Islam, Hossein Salami, dan kepala staf militer, Mohammad Bagheri, keduanya tewas dalam serangan Israel. Sedikitnya dua anggota IRGC senior lainnya juga tewas dan beberapa fasilitas nuklir serta ilmuwan menjadi sasaran.
Sementara itu, para pemimpin G-7 berkumpul di Kanada dan sebagian besar perhatian mereka akan tertuju pada reaksi Trump. Menjelang KTT, terdapat agenda untuk menjauhkan isu-isu geopolitik yang sulit dari agenda, tetapi itu akan sulit mengingat efek lanjutan dari lonjakan harga minyak terhadap inflasi.
Trump telah memperingatkan Iran untuk menyetujui kesepakatan nuklir "sebelum terlambat" dan menderita serangan yang lebih buruk. Dia belum mengindikasikan apakah AS akan bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran.
(bbn)




























