Mengenai permintaan yang turun dari China dan India, Arsal menyebut perseroan meresponsnya dengan mengupayakan diversifikasi pasar di luar Negeri Panda untuk penjualan batu bara.
Menurutnya, Bukit Asam sudah melakukan perluasan pasar ekspor batu bara ke Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan sebagian kecil ke Jepang.
“Jadi kami melakukan berbagai macam diversifikasi agar produk atau produksi yang kami hasilkan ini bisa terjual. Di samping itu, kami memenuhi kebutuhan di dalam negeri,” ujarnya.
Arsal menjelaskan turunnya permintaan batu bara oleh China adalah situasi yang tidak terhindarkan, mengingat kondisi perekonomian raksasa Asia Timur itu sedang tidak baik-baik saja. Demikian halnya dengan India.
Efek perang tarif melawan Amerika Serikat (AS) disebutnya sangat memengaruhi kondisi permintaan di negara tersebut.
Saat ekonomi cedera akibat perang dagang, industri di Negeri Panda pun ikut tertekan, yang pada ujungnya akan memangkas permintaan si batu hitam.
Kabar baiknya, Arsal menyebut harga batu bara saat ini sudah mulai naik perlahan.
“Sekarang ini kondisi harga batu bara kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, penurunannya sudah sangat-sangat jauh. Bahkan, sekarang ini ICI sudah mendekati US$100/ton, pernah waktu-waktu tertentu di bawah US$100/ton. Sekarang sudah mulai agak naik sedikit,” tuturnya.
Harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan mendatang ditutup di US$ 104,45/ton pada Rabu, menguat 0,77% dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), harga batu bara terkoreksi 16,61%. Dalam setahun terakhir atau secara year on year (yoy), harga masih melemah 22,89%.
Di sisi lain, China diramal memangkas impor batu bara kalor terendah dari Indonesia lantaran kelebihan pasokan bahan bakar di negara tersebut membuat perdagangan menjadi tidak ekonomis saat pemerintah memperketat emisi karbon.
Harga acuan batu bara termal China telah merosot ke titik terendah dalam empat tahun, akibat rekor produksi dalam negeri China dan peningkatan impor dalam beberapa tahun terakhir.
Permintaan listrik di Negeri Panda juga tidak meningkat karena ekonomi melambat, sementara energi terbarukan menanggung lebih banyak beban pembangkitan listrik.
China Huadian Corp, salah satu pembangkit listrik terbesar di negara itu, memperkirakan total impor akan turun menjadi sekitar 400 juta ton tahun ini, dari rekor 543 juta ton yang dibeli pada 2024, menurut Zhang Aipei, Wakil Direktur Produksi.
Produksi dalam negeri, yang mencapai 4,7 miliar ton tahun lalu, merupakan sumber pasokan utama China. Zhang tidak memperkirakan hal itu akan mencapai puncaknya hingga 2027.
(wdh)





























