Logo Bloomberg Technoz

Sementara secara tahunan, inflasi IHK yang tercatat 1,6%, juga lebih rendah daripada ekspektasi pasar, diwarnai oleh deflasi pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar -0,28% year-on-year.

"Deflasi bulan Mei jadi pertanda daya beli sedang lesu, bukan hanya faktor paska lebaran. Misalnya di komponen peralatan rumah tangga terjadi deflasi -0,04% mtm. Makanan minuman tembakau turunnya sampai -1,4% mtm. Ini sudah lampu kuning ada gejala pertumbuhan ekonomi melambat di kuartal ke II 2025. Kalau kondisi motor permintaan rendah berlanjut, maka PHK massal makin masif di semester ke II tahun ini," komentar Bhima Yudistira, Ekonom dari Center of Law and Economic Studies (CELIOS), Senin (2/6/2025).

Pengumuman inflasi IHK hari ini digabung dengan laporan kinerja ekspor impor Indonesia pada bulan April. Data hari ini, baik inflasi maupun kinerja dagang banyak yang tak sesuai dengan ekspektasi pasar.

Nilai surplus dagang, misalnya, bahkan ambles ke level terendah sejak 2019, yakni hanya sebesar US$ 160 juta. Nilai surplus dagang lebih kecil dari itu pernah terjadi pada Oktober 2019 silam. Sementara terakhir kali neraca dagang mencetak defisit adalah pada April 2020 sebesar US$ 375 juta.

Sampai tengah hari ini, mayoritas tenor Surat Utang Negara bergerak naik imbal hasilnya, terutama tenor 5 tahun yang naik 4,1 basis poin (bps) kini di 6,482%.

Tenor 10 tahun juga naik 2,7 bps bersama tenor 2Y yang juga tertekan dengan kenaikan yield 2,5 bps.

Adapun harga saham juga tertekan dengan mengakhiri sesi pertama perdagangan, jatuh 1,7% di level 7.054. Sementara rupiah melemah di Rp16.305/US$.

Perang dagang

Tekanan yang dialami oleh harga aset-aset di pasar keuangan domestik telah berlangsung sejak pagi tadi akibat tersengat sentimen negatif pasar global. 

Ketidakpastian kembali merebak menyusul ketegangan yang kembali hadir di antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). 

Tiongkok menuduh AS telah melanggar kesepakatan dagang terbaru mereka dan berjanji akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingannya.

Perkembangan terbaru itu meredupkan harapan terjadinya percakapan tingkat tinggi yang diinginkan Donald Trump guna melanjutkan dialog bilateral.

Pada saat yang sama, risiko geopolitik juga meningkat di Eropa menyusul serangan Ukraina ke Rusia. Lanskap global itu diperburuk oleh data-data perekonomian terbaru dalam negeri hari ini.

S&P Global pagi ini melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia pada Mei berada di 47,4. Naik sedikit ketimbang April yang sebesar 46,7.

Namun, PMI di bawah 50 menunjukkan aktivitas yang kontraksi, bukan ekspansi. PMI manufaktur Indonesia sudah 2 bulan berada di zona kontraksi.

“Survei terakhir menunjukkan bahwa terjadi kontraksi yang lebih dalam pada Mei dalam hal pemesanan baru (new orders). Ini menjadi yang paling rendah sejak Agustus 2021,” ungkap keterangan tertulis S&P Global.

Data itu menunjukkan efek perang dagang global terlihat makin nyata pada Indonesia. Hal tersebut makin ditegaskan oleh data kinerja dagang pada April ketika nilai surplus dagang mengecil ke level terendah lima tahun, tinggal US$ 160 juta, jauh di bawah ekspektasi pasar.

Impor yang melonjak tajam hingga double digit ketika ekspor RI stagnan, terutama disumbang oleh lonjakan impor dari mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan.

Impor tiga negara itu pada April naik masing-masing 53,71% year-on-year, lalu 39,61% dan 16,58%. Sementara selama Januari-April, kenaikan impor dari Tiongkok mencapai 22,4%.

Impor Indonesia dari negara tetangga yakni Singapura dan Thailand juga melonjak tajam pada April lalu, mencapai 47,74% yoy dan 50,9% yoy.

(rui)

No more pages