Sejak kabar rencana akuisisi mencuat, saham Toyota Industries telah naik lebih dari 20%, jauh melampaui kinerja indeks Topix yang hanya mencatat kenaikan 2% dalam periode yang sama.
“Langkah ini sangat positif, baik dari sisi tata kelola maupun finansial,” ujar Vikas Pershad, portfolio manager M&G Investments yang berbasis di Singapura. “Ada cukup arus kas yang dihasilkan, dan banyak pembiayaan sedang disiapkan, jadi secara finansial ini masuk akal.”
M&G, yang memegang saham di Toyota Motor dan Toyota Industries, telah membahas isu “penyederhanaan” dengan kedua perusahaan tersebut selama dua dekade, ujar Pershad. “Kami sudah berdiskusi sejak tahun 2005 mengenai kepemilikan silang, dan baru sekarang terlihat kemajuannya,” katanya. “Sepertinya semua yang kami harapkan dan perjuangkan mulai terwujud.”
Namun, tidak semua pihak menyambut positif rencana buyout ini.
Travis Lundy, analis dari Quiddity Advisors, menyampaikan kekhawatiran bahwa keterlibatan keluarga pendiri dalam akuisisi dengan dukungan besar dari Toyota Motor dapat menimbulkan risiko tata kelola perusahaan. “Jika Toyota Motor memanfaatkan posisinya dan jaringan perbankan untuk membantu keluarga pendiri memperoleh kendali dengan modal kecil dan leverage tinggi, maka ini menjadi masalah serius bagi pemegang saham,” tulisnya dalam laporan di SmartKarma.
Lundy memperkirakan kesepakatan ini akan diumumkan dalam 30 hari dan prosesnya akan dimulai dalam 90 hari.
Sementara itu, Andrew Jackson, Head of Japan Equity Strategy di Ortus Advisors Pte, menyebutkan bahwa kekhawatiran beberapa investor terhadap potensi penerbitan saham baru kini mereda setelah muncul opsi pembiayaan melalui pinjaman bank.
“Dengan pendanaan yang tak lagi menjadi masalah, dan nilai transaksi sesuai ekspektasi pasar, ada potensi kenaikan harga saham lebih lanjut,” ujarnya.
(bbn)




























