Logo Bloomberg Technoz

Setelah konsultasi selesai, Dr. Hua memberikan rencana perawatan yang kemudian ditinjau dan disetujui oleh dokter manusia tanpa bertemu langsung dengan pasien. Dokter manusia juga siap siaga untuk menangani keadaan darurat yang tidak bisa ditangani oleh AI.

Menurut Synyi AI, teknologi ini memiliki tingkat kesalahan kurang dari 0,3% selama fase pengujian sebelum uji coba saat ini.

“Apa yang selama ini dilakukan AI adalah membantu dokter, tetapi sekarang kami mengambil langkah terakhir dalam perjalanan ini—membiarkan AI mendiagnosis dan merawat pasien secara langsung,” ujar CEO Synyi AI, Zhang Shaodian, dalam sebuah wawancara.

Sejauh ini, beberapa lusin pasien telah menggunakan layanan ini secara gratis, dengan kehadiran dokter manusia karena proyek ini masih dalam tahap uji coba. Program percontohan ini sedang menghasilkan data diagnosis AI yang nantinya akan diajukan kepada otoritas Saudi untuk mendapatkan persetujuan sebelum layanan ini bisa tersedia secara komersial. Zhang mengatakan ia optimistis izin akan diberikan dalam waktu 18 bulan.

Namun, masih ada keraguan di kalangan profesional medis bahwa AI dapat menggantikan dokter manusia dalam waktu dekat.

“Kami mengetahui banyak upaya untuk membangun dokter AI yang cukup mumpuni seperti ini, yang dapat berbicara langsung dengan pasien, tetapi bahkan yang terbaik pun belum berfungsi setara dengan dokter praktik umum,” kata Ngiam Kee Yuan, konsultan senior di National University Hospital Singapura. 

“Saya sangat skeptis.”

Untuk saat ini, layanan Dr. Hua terbatas pada keluhan saluran pernapasan, mencakup sekitar 30 penyakit seperti asma dan faringitis. Perusahaan berencana memperluas daftar tersebut hingga mencakup 50 penyakit di bidang pernapasan, gastroenterologi, dan dermatologi dalam satu tahun ke depan. Perusahaan juga bekerja sama dengan rumah sakit lain di Arab Saudi untuk membuka klinik serupa dalam beberapa bulan mendatang.

Synyi AI hanyalah yang terbaru dari sejumlah perusahaan kesehatan Tiongkok yang membangun operasional di Timur Tengah sambil menyempurnakan teknologi mereka agar cocok untuk penerapan di dunia nyata secara global. Shanghai Fosun Pharmaceutical Group Co menandatangani kesepakatan dengan Fakeeh Care Group asal Arab Saudi awal tahun ini untuk mengembangkan terapi sel dan gen serta tele-diagnostik. 

XtalPi Holdings Ltd, perusahaan penemuan obat berbasis AI asal Tiongkok, sedang membangun laboratorium robotika di Uni Emirat Arab.

AI telah banyak diterapkan dalam konsultasi daring oleh beberapa layanan kesehatan internet terkemuka di Tiongkok — namun perannya sebagian besar masih bersifat pendukung. Beberapa perusahaan Tiongkok sedang mengembangkan alat AI serupa ChatGPT untuk melakukan konsultasi secara mandiri, tetapi belum ada yang digunakan secara komersial. 

Penyedia layanan kesehatan daring China, Medlinker, misalnya, memperkenalkan dokter AI bernama MedGPT, yang diklaim mampu mendiagnosis beberapa penyakit umum dengan tingkat akurasi dan konsistensi setara dengan dokter manusia.

“AI medis berdampak langsung pada kehidupan manusia, jadi pengawasan sangat penting,” kata Dylan Attard, salah satu pendiri dan CEO MedTech World, perusahaan media dan acara yang berfokus pada teknologi medis. 

“Perlu ada pagar pembatas untuk menjamin keselamatan, efektivitas, dan kepercayaan publik. Namun, regulator juga perlu menemukan keseimbangan—teliti, tetapi cukup adaptif agar tidak menghambat inovasi.”

Didirikan pada 2016, Synyi AI telah didukung oleh Tencent, Hongshan Capital, GGV Capital, dan pendanaan dari pemerintah lokal. Perusahaan ini telah bekerja sama dengan lebih dari 800 rumah sakit, klinik, dan institusi pendidikan kedokteran di China untuk menggunakan AI dalam pengelolaan data, membantu diagnosis, dan menjalankan penelitian. 

Arab Saudi adalah pasar luar negeri pertama bagi perusahaan ini.

Zhang mengatakan bahwa perusahaannya juga sedang berdiskusi dengan pemerintah daerah di China untuk proyek serupa, tetapi terlebih dahulu perlu menguji apakah model ini layak secara komersial di negara asalnya, di mana layanan kesehatan yang didanai publik membuat biaya konsultasi menjadi murah. 

Di Arab Saudi dan banyak negara lain di mana biaya berobat cukup mahal, AI bisa membantu memangkas biaya secara signifikan. Ia juga melihat manfaat terbesar AI di daerah terpencil yang sering kekurangan tenaga medis.

“Saya pikir efisiensinya bisa meningkat hingga sepuluh kali lipat,” ujarnya.

(bbn)

No more pages