Untuk itu, stabilitas di kawasan Eropa Timur bisa berimplikasi langsung pada potensi penurunan harga komoditas-komoditas tersebut seiring dengan berkurangnya ancaman terhadap kelancaran distribusi.
Terlebih, konflik yang berkecamuk antara Rusia dan Ukraina selama ini telah menimbulkan turbulensi signifikan dalam rantai pasok global mineral logam.
“Potensi gencatan senjata Rusia Ukraina membuka peluang bagi restorasi jalur perdagangan dan logistik yang sempat terhambat, yang pada gilirannya dapat menstabilkan, bahkan menurunkan, harga seiring dengan peningkatan ketersediaan material,” terang Ibrahim.
Sentimen Positif
Lebih jauh, seandainya Putin hadir langsung di Turki pada pertemuan dengan Zelenskiy, Kamis (15/5/2025), peluang gencatan senjata Rusia-Ukraina berpotensi menstimulasi sentimen positif di pasar global.
Harapan perdamaian kedua negara tersebut, kata Ibrahim, bisa meredakan kekhawatiran akan stagnasi ekonomi dan resesi yang diperparah oleh inflasi harga komoditas akibat peperangan.
“Kondisi pasar yang lebih tenang ini niscaya dapat memicu koreksi harga menuju ekuilibrium yang baru,” ujarnya.
Harga Bervariasi
Sementara itu, Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan harga komoditas mineral logam atau pertambangan bervariasi sejak awal tahun.
Harga timah di London Metal Exchange (LME) secara year to date (ytd) naik sekitar 11% di level US$32.974/ton pada Jumat (16/5/2025). Kenaikan tersebut senada dengan turunnya pasokan global pada 2024.
“Produksi timah global turun -2,7% yoy [year on year] pada 2024 menjadi 371.200 ton. Turunnya pasokan tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya produksi timah dari Indonesia -30,7% yoy akibat pemerintah memperketat izin usaha dan ekspor,” terangnya.
Meskipun produksi timah nasional turun, produksi timah PT Timah Tbk (TINS) naik 23% yoy sebesar 18.900 pada 2024.
“Sementara itu, potensi gencatan senjata Rusia dan Ukraina tidak secara langsung berdampak bagi pasokan timah karena kedua negara tersebut bukan eksportir utama. Namun, hal itu dapat memberikan sentimen positif bagi meningkatnya permintaan akibat meredanya kondisi geopolitik,” kata Ratih.
“Kami memproyeksikan harga timah pada 2025 berada di rentang US$30.000—US$32.000 per ton.”
Di sisi lain, harga nikel cenderung stagnan secara ytd di median US$15.000/ton. Pergerakan harga rata-rata nikel LME terkontraksi 7,7% yoy pada 2024 menjadi US$15.325/ton, serta produksi nikel global turun 7,4% yoy menjadi 3,4 juta ton.
Produsen mengurangi kapasitas produksi ditengah oversupply dan penurunan harga nikel. Kondisi kelebihan pasokan nikel pada 2024 mencapai 179.000 ton berpotensi tetap berlanjut pada 2025.
“Sehingga, jika gencatan Rusia-Ukraina senjata terjadi, permintaan berpotensi meningkat, tetapi disrupsi pasokan berakhir sehingga kondisi oversupply belum sepenuhnya teratasi. Pasalnya, Rusia termasuk Top 5 produsen nikel terbesar di dunia,’ kata Ratih.
Harga komoditas nikel pada 2025 disetimasikannya bergerak di rentang US$15.000—US$15.500 per ton.
“Namun, permintaan harga komoditas nikel, timah, dan metal mining lainnya masih dipengaruhi oleh aspek kebijakan pasar, ketidakpastian tarif, kondisi ekonomi AS dan China, hingga kondisi geopolitik yang dapat mempengaruhi supply dan demand,” tuturnya.
Harapan Pupus
Sebelumnya, Putin tidak hadir dalam pertemuan tingkat tinggi dengan Zelenskiy di Turki pada Kamis, sehingga memupuskan harapan terwujudnya gencatan senjata Rusia-Ukraina.
Namun kini, fokus bergeser pada upaya Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menambah sanksi baru kepada Rusia guna memaksa Putin ke meja perundingan bersama pemimpin Ukraina.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengecilkan harapan untuk perundingan lanjutan yang akan berlangsung di Istanbul pada Jumat, dengan mengatakan kemungkinan kemajuan rendah tanpa pertemuan antara Putin dan Trump.
Rubio, yang akan melakukan perjalanan ke Istanbul pada Jumat, tidak akan mengambil bagian dalam perundingan tersebut.
“Perundingan tersebut akan dihadiri oleh anggota tim AS lainnya pada tingkat yang sesuai," katanya, setelah Rusia mengumumkan hanya akan mengirim ajudan tingkat rendah.
Sebaliknya, Rubio akan bertemu secara terpisah dengan utusan senior Ukraina dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
"Sejujurnya saya tidak percaya bahwa kita akan mencapai terobosan di sini sampai Presiden Trump duduk berhadapan dengan Presiden Putin dan menentukan apa niatnya untuk bergerak maju," kata Rubio kepada wartawan di Antalya, Turki, setelah pertemuan menteri luar negeri NATO di sana.
Komentar Rubio menggemakan pernyataan Trump sebelumnya pada Kamis bahwa "tidak akan terjadi [progres] apa-apa" sampai dia bertemu dengan pemimpin Rusia tersebut.
-- Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi
(wdh)





























