Logo Bloomberg Technoz

Teknologi kecerdasan buatan menjadi inti dari banyak kesepakatan yang dinegosiasikan Trump di kawasan tersebut. Negara-negara Teluk memang tengah berlomba memperoleh akses ke chip mutakhir demi membangun ekosistem teknologi dan mendiversifikasi ekonomi mereka.

Pengumuman terbaru pada Kamis mencakup:

  • Rencana kerja sama dengan Qualcomm Inc untuk membangun pusat rekayasa global di Abu Dhabi yang berfokus pada AI dan pusat data.
  • Pembangunan kampus AI baru di UEA oleh G42, perusahaan andalan teknologi negara tersebut, yang akan dijalankan bersama beberapa perusahaan asal AS. Kementerian Perdagangan AS menyatakan kampus ini akan memiliki kapasitas 5 gigawatt untuk pusat data AI, menyediakan platform regional bagi penyedia layanan cloud dan komputasi skala besar.
  • Kolaborasi antara Amazon Web Services Inc, perusahaan telekomunikasi e& (dahulu Etisalat), dan Dewan Keamanan Siber UEA untuk memperkuat layanan cloud publik di dalam negeri.

Pemerintahan Trump juga tengah mempertimbangkan kesepakatan yang memungkinkan UEA mengimpor lebih dari satu juta cip canggih dari Nvidia Corp. Selain itu, kesepakatan terpisah dengan Arab Saudi juga tengah disusun untuk pengadaan puluhan ribu semikonduktor dari Nvidia dan Advanced Micro Devices Inc. Namun, maraknya kesepakatan AI ini mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan internal pemerintah AS, khususnya dari kubu yang mengkhawatirkan potensi dampak terhadap keamanan nasional dan kepentingan ekonomi AS.

Kesepakatan Kamis ini memperkuat komitmen UEA yang sebelumnya telah menyatakan akan menginvestasikan US$1,4 triliun di AS dalam 10 tahun ke depan. Investasi itu mencakup infrastruktur AI, semikonduktor, energi, dan manufaktur, menyusul pertemuan pada Maret lalu antara Trump dan Penasihat Keamanan Nasional UEA, Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan.

Sebelumnya, Trump juga mengumumkan rencana proyek infrastruktur AI senilai US$100 miliar yang digagas oleh MGX, perusahaan asal Abu Dhabi yang berada di bawah kendali Sheikh Tahnoon. MGX merupakan bagian dari portofolio bisnis Sheikh Tahnoon senilai US$1,5 triliun, yang juga mencakup dana kekayaan negara dan perusahaan AI G42.

G42 kini berkembang sebagai salah satu konglomerat teknologi paling menjanjikan di kawasan, dan telah menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan AS seperti OpenAI Inc dan Amazon.com Inc.

(bbn)

No more pages