Pernyataan Trump ini disampaikan setelah laporan pada Selasa (13/5/2025) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) naik 0,2% pada bulan April — lebih rendah dari perkiraan untuk bulan ketiga berturut-turut.
Harga barang-barang yang diperkirakan paling terdampak oleh tarif impor justru naik lebih rendah dari yang dikhawatirkan para ekonom. Di sisi lain, penurunan harga di sektor jasa seperti tiket pesawat, hotel, dan hiburan — yang bisa jadi pertanda melemahnya permintaan terhadap kebutuhan non-esensial — turut menekan angka inflasi.
Meski demikian, para ekonom memperkirakan dampak kenaikan tarif akan semakin terasa dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini membuat bank sentral cenderung berhati-hati dalam memangkas suku bunga. Berdasarkan data futures, pelaku pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada dua pertemuan kebijakan berikutnya di bulan Juni dan Juli, sebelum kemungkinan penurunan pada September dan Desember.
Trump sendiri berusaha meredam kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga dan kelangkaan barang akibat kebijakan tarif yang diterapkannya. Pemerintahannya telah menetapkan tarif global sebesar 10% terhadap hampir semua negara, serta mengenakan atau mengancam tarif tambahan untuk sektor-sektor strategis. Kebijakan ini sempat mengguncang pasar dan memicu kekhawatiran akan lonjakan harga bagi konsumen AS serta perlambatan ekonomi.
Namun, data April dinilai belum sepenuhnya mencerminkan dampak tarif tersebut. Banyak barang impor yang beredar di pasar AS bulan lalu masih merupakan kiriman sebelum tarif diberlakukan. Beberapa pelaku usaha juga memilih menanggung beban kenaikan harga agar permintaan tidak turun, terutama saat konsumen tengah waspada terhadap kondisi ekonomi.
"Perkiraan kami menunjukkan lonjakan harga akan terjadi pada bulan Juni dan Juli akibat tarif," ujar Michael Hanson, ekonom dari JPMorgan Chase & Co, dalam catatannya setelah data dirilis. "Para analis ekonomi dan pejabat The Fed sama-sama tengah mengamati sejauh mana tekanan harga akan meningkat."
Di sisi lain, harga bahan makanan mencatat penurunan terbesar sejak tahun 2020 — kabar baik bagi warga AS yang sedang kesulitan finansial. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya harga telur, yang merupakan penurunan terbesar dalam empat dekade terakhir, memberikan kelegaan setelah wabah flu burung sempat membuat harga melonjak ke rekor tertinggi awal tahun ini. Harga kebutuhan pokok lain seperti bacon, ayam, dan beras juga tercatat menurun.
Trump kerap mengutip harga bensin dan barang kebutuhan lainnya untuk meredam kekhawatiran inflasi, meski di sisi lain ia mengakui bahwa kebijakan tarifnya mungkin membuat konsumen harus mengurangi pengeluaran terhadap sejumlah produk.
Tarif balasan — yang disebut Trump sebagai tarif “resiprokal” — terhadap sekitar 60 negara dan Uni Eropa saat ini masih ditahan pada level 10% hingga Juli. Namun, tarif tersebut bisa saja kembali dinaikkan. Trump sempat mengumumkan kenaikan tarif pada April, lalu menundanya guna memberi waktu kepada negara-negara mitra untuk merundingkan kesepakatan dagang dengan pemerintahannya.
(bbn)
































