Selisih tersebut sangatlah besar mengingat angka $1 triliun hampir menyamai total Produk Domestik Bruto (PDB) Arab Saudi.
Akhirnya, Trump — yang ingin menjadikan konferensi ini sebagai simbol era kemakmuran baru — setidaknya meraih kemenangan simbolis saat putra mahkota menunjukkan niat untuk meningkatkan investasi Saudi.
“Kalau kita lihat pemerintahan lain, mereka tidak akan mencapai $1 triliun, bahkan dalam beberapa tahun,” kata Trump. “Kami melakukannya hanya dalam dua bulan.”
Fokus Trump pada investasi asing langsung di AS bukanlah kebetulan. Sebagai mantan pengembang properti, ia sangat menghargai kesepakatan ekonomi yang bersifat transaksional dan telah membangun citranya sebagai ‘deal-maker-in-chief’ (pembuat kesepakatan utama) Amerika.
Ali Shihabi, penulis dan komentator Saudi yang hadir di Istana Al-Yamamah sebagai tamu kehormatan untuk menyambut Trump, mengatakan bahwa penting untuk melihat lebih dari sekadar nilai finansial pengumuman tersebut.
“Kunjungan ini menyoroti kekuatan hubungan dan memperkuatnya dengan menciptakan jaringan kerja sama yang terus berkembang dalam bidang ekonomi, politik, dan keamanan,” kata Shihabi dalam wawancara.
Trump juga sudah lama melihat hubungan ekonomi sebagai cara untuk mencapai stabilitas keamanan, meski pidatonya kembali menunjukkan retorika yang terkadang tidak sesuai kenyataan. Ia menganggap partisipasi Arab Saudi dalam Abraham Accords — serangkaian perjanjian normalisasi antara negara Arab dan Israel yang ditengahi pemerintahannya — sebagai sesuatu yang sudah pasti.
“Itulah yang saya inginkan, dan itu juga yang kalian inginkan, dan itulah yang akan terjadi,” kata Trump.
Namun, perbedaan pandangan terkait pengakuan negara Palestina dan nasib pengungsi dari Gaza tetap menjadi hambatan besar.
Meski demikian, sejumlah pengumuman konkret disampaikan di pusat konferensi di tengah musik dari Lee Greenwood dan Village People. Eksekutif yang hadir termasuk Larry Fink dari BlackRock Inc. dan Andy Jassy dari Amazon.com Inc., sementara CEO lain seperti Jane Fraser dari Citigroup Inc. dan Stephen A. Schwarzman dari Blackstone berpartisipasi dalam acara di sekitar forum.
Paket investasi ini mencakup penjualan perlengkapan pertahanan AS senilai hampir $142 miliar, yang akan menyediakan Arab Saudi peralatan dan layanan tempur mutakhir dari lebih dari selusin perusahaan pertahanan AS, menurut Gedung Putih. Paket ini meliputi teknologi pertahanan dari kemampuan angkatan udara hingga keamanan maritim serta layanan informasi dan komunikasi.
Gedung Putih juga mengumumkan rencana perusahaan Saudi untuk membeli peralatan buatan AS. Termasuk di antaranya turbin gas alam dan produk lain dari GE Vernova Inc. senilai total $14,2 miliar.
Secara terpisah, Boeing Co. akan mengekspor pesawat penumpang 737-8 senilai $4,8 miliar untuk AviLease yang berbasis di Arab Saudi.
Alphabet Inc. (Google), Oracle Corp., Salesforce Inc., Advanced Micro Devices Inc., Uber Technologies Inc., dan perusahaan Saudi DataVolt akan menginvestasikan $80 miliar dalam teknologi transformasional mutakhir di kedua negara. DataVolt dikatakan akan “melanjutkan rencana” pembangunan pusat data kecerdasan buatan dan infrastruktur energi di AS senilai $20 miliar.
Gedung Putih juga menyoroti rencana kemitraan melalui dana investasi yang berfokus pada sektor energi, kedirgantaraan, dan olahraga di AS. Lembar fakta resmi menyebutkan dana tersebut akan menyalurkan “modal substansial ke industri Amerika.”
Salah satu investasi yang direncanakan juga menyentuh bidang kesehatan, dengan perusahaan Saudi Shamekh IV Solutions akan mengucurkan dana sebesar $5,8 miliar, termasuk untuk pembangunan pabrik cairan infus di Michigan. Perusahaan ini mengklaim ingin mengatasi kekurangan global cairan infus yang digunakan untuk pengobatan dan nutrisi pasien melalui pembuluh darah.
Pendekatan Trump terhadap kebijakan luar negeri sangat dipengaruhi oleh “versinya tentang diplomasi ekonomi, yaitu dengan melihat negara-negara kaya di Teluk dan dana kekayaan negara mereka yang sangat besar sebagai sumber investasi untuk Amerika Serikat,” kata Steven Cook, peneliti senior untuk Studi Timur Tengah dan Afrika di Council on Foreign Relations.
Namun, janji investasi dari sang putra mahkota bisa saja bertabrakan dengan ambisinya sendiri untuk mengubah struktur ekonomi Saudi, mengurangi ketergantungan historis pada minyak. Proyek besar seperti kota futuristik Neom diperkirakan membutuhkan dana mendekati $2 triliun, menurut estimasi Bloomberg.
Kunjungan Trump menjadi kesempatan penting bagi Arab Saudi untuk menarik sebagian dana yang dibutuhkan itu dari AS dan investor lain. Kerajaan menargetkan bisa menarik investasi asing langsung sebesar $100 miliar per tahun pada 2030, tetapi tahun lalu hanya mencapai $20,7 miliar — terendah sejak 2020.
Harga minyak mentah yang berada di sekitar $62 per barel semakin menekan keuangan Saudi, dengan Bloomberg Economics memperkirakan bahwa kerajaan membutuhkan harga setidaknya $96 per barel untuk menyeimbangkan anggaran.
(bbn)































