Logo Bloomberg Technoz

Dalam kaitan itu, Ibrahim menggarisbawahi pelemahan mata uang rupiah tidak semata-mata terjadi karena perang dagang antara AS dan China.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat Federal Reserves (The Fed) yang masih mempertahankan suku bunga tinggi hingga geopolitik di Timur Tengah yang memanas.

"Apalagi di Timur Tengah, perwakilan dari AS sendiri yang datang ke Israel dan Palestina yang mengatakan bahwa Israel mau menguasai sepenuhnya wilayah Jalur Gaza. Artinya apa? Ini akan terjadi perang besar," ujarnya.

Sebelumnya, AS sepakat untuk memangkas tarif mereka terhadap barang-barang impor dari China dari sebesar 145% menjadi 30%, termasuk tarif yang dikenakan pada fentanil mulai 14 Mei hingga 90 hari ke depan.

Pada bagian lain, China juga bersedia menurunkan tarif mereka untuk barang-barang impor dari AS dari sebesar 125% menjadi 10%.

Hal itu disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam taklimat media yang digelar di Jenewa, pagi waktu setempat atau siang waktu Jakarta.

"Kami telah melakukan diskusi yang sangat kuat dan produktif mengenai langkah-langkah maju terkait fentanil. Kami sepakat bahwa tidak ada pihak yang ingin memisahkan diri," kata Bessent, dilansir dari Bloomberg News, Senin siang.

Bessent juga mengatakan, kedua belah pihak akan membentuk mekansime untuk melanjutkan diskusi tentang hubungan ekonomi dan perdagangan.

(dov/wep)

No more pages