Logo Bloomberg Technoz

Pertumbuhan konsumsi swasta akan tetap tangguh, dengan sedikit moderasi karena kurangnya lapangan kerja yang berkualitas meningkatkan precautionary saving, yakni masyarakat lebih memilih menyimpan uang sebagai bentuk antisipasi ketidakpastian.

Bank Dunia juga memproyeksikan tingkat kemiskinan akan menurun menjadi 11,5% pada 2027 seiring dengan permintaan yang terjaga.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap akan mencapai sekitar 5% pada 2025 meski ada ancaman dari kebijakan tarif Trump.

Menteri PANRB Rini Widyantini melakukan pertemuan dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati, di Kantor Direktorat Jenderal Anggaran (Dok.kar/HUMAS MENPANRB)

Sekadar catatan, angka ini lebih tinggi dari laporan terbaru Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 4,7% dari 5,1% pada 2025.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan tetap akan mencapai sekitar 5%," ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers, Kamis (24/4/2025).

Sri Mulyani melandasi proyeksi tersebut karena beberapa faktor. Pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap positif pada kuartal I-2025 di tengah ketidakpastian global yang mengalami kenaikan.

Dia mengatakan hal ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap baik dan belanja pemerintah, terutama dalam bentuk pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan belanja sosial melalui berbagai insentif yang diberikan sejak awal tahun hingga menjelang Idulfitri 1446H.

Kementerian Keuangan mengalokasikan Rp49,4 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk THR Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Idulfitri 2025. Angka itu naik 1,44% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan Rp48,7 triliun yang merupakan alokasi anggaran THR ASN 2024.

Kedua, keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) di berbagai wilayah dan meningkatnya konstruksi properti swasta diperkirakan akan meningkatkan kinerja investasi.

"Investasi swasta masih baik didukung oleh keyakinan produsen yang terlihat pada aktivitas manufaktur Indonesia yang masih pada zona ekspansif. Investasi khususnya non-bangunan tetap menopang pertumbuhan ekonomi yang tercermin dari meningkatnya impor barang modal terutama import alat-alat berat," ujarnya.

Realisasi investasi pada kuartal I-2025 mencapai Rp465,2 triliun. Angka tersebut meningkat 2,7% secara kuartalan atau naik 15,9% secara tahunan.

Ketiga, kinerja ekspor diperkirakan juga tetap baik didukung oleh ekspor non-nigas yang meningkat pada bulan Maret 2025 terutama komoditas minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), besi dan baja serta mesin dan peralatan elektrik.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Maret 2025 tercatat US$23,35 miliar, meningkat 5,95% secara bulanan dibanding Februari 2025, dan naik 3,16% secara tahunan dibanding Maret 2024.

"Pemerintah juga aktif menjajaki potensi perluasan ekspor produk-produk unggulan di pasar ASEAN+3, BRICS, dan di Eropa, di tengah kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh AS," ujarnya.

(dov/ros)

No more pages