"Hasil pertumbuhan yang lebih kuat membutuhkan penyelesaian perang dagang yang lebih cepat dan pembaharuan kepercayaan pada pembuatan kebijakan AS," kata Brett Ryan, ekonom senior AS di Deutsche Bank AG.
Meski pemerintahan Trump sudah memberlakukan jeda 90 hari untuk beberapa tarif bersifat hukuman yang diumumkan awal bulan ini, tingkat tarif efektif negara itu sekarang hampir mencapai 23%—tertinggi dalam lebih dari satu abad—menurut Bloomberg Economics. Ini berdampak buruk pada sentimen konsumen dan bisnis.
Dana Moneter Internasional (IMF) secara substansial menurunkan proyeksi pertumbuhan global pekan ini, dan memperingatkan jika tarif AS tetap berlaku, maka akan berdampak ke seluruh dunia.
Survei Bloomberg menunjukkan para ekonom kini memperkirakan impor naik 19,2% secara tahunan pada kuartal pertama lantaran perusahaan-perusahaan bergegas memasukkan barang ke AS menjelang bea masuk tinggi berlaku. Mereka juga merevisi estimasi menjadi lebih rendah hingga 2027.
Para ekonom juga melihat adanya ekspor AS yang lebih rendah hingga 2026. Negara-negara termasuk China memberlakukan tarif pembalasan terhadap barang-barang AS, yang akan membuat impor produk-produk tersebut lebih mahal dan mungkin mengakibatkan permintaan menjadi lebih rendah di luar negeri.
Biro Analisis Ekonomi akan mempublikasikan estimasi awal PDB kuartal pertama pada 30 April.
Para ekonom meramal metrik inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed)—indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi—mencapai puncaknya 3,2% pada akhir 2025, naik dari perkiraan 2,7% dalam survei Maret. Tingkat inflasi inti PCE, yang tidak termasuk makanan dan energi, diperkirakan akan mencapai 3,3%.
"Inflasi terlihat meningkat, tetapi tidak seburuk tahun 2022," kata ekonom Comerica Bank, Bill Adams dan Waran Bhahirethan. "Sejak tarif naik, The Fed telah memperingatkan bahwa hambatan untuk memangkas suku bunga, lebih tinggi dengan meningkatnya inflasi daripada selama guncangan ekonomi konvensional, yang menurunkan permintaan dan harga."
Pasar tenaga kerja sebagian besar tampak bertahan dalam jangka pendek, di mana para ekonom memperkirakan perusahaan akan menambah 72.000 dan 100.000 gaji per bulan secara rata-rata tahun ini dan tahun depan. Mereka memprediksi tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada akhir tahun 2025, lebih tinggi dari 4,3% proyeksi Maret.
Survei ini dilakukan pada 18-23 April dan mencakup tanggapan dari 82 ekonom.
(bbn)
































