Pertemuan di London ini dimaksudkan sebagai tindak lanjut dari diskusi sebelumnya di Paris pekan lalu, di mana AS menyampaikan usulan untuk mendorong terjadinya gencatan senjata dan perjanjian damai antara Rusia dan Ukraina. Menurut laporan Bloomberg sebelumnya, AS dikabarkan bersedia melonggarkan sanksi terhadap Moskow dan mengakui kendali Rusia atas Semenanjung Krimea di Laut Hitam sebagai bagian dari kesepakatan.
Usulan AS ini pada dasarnya akan membekukan garis depan konflik yang telah memasuki tahun keempat, dengan Rusia tetap menguasai sebagian besar wilayah Ukraina timur dan selatan yang saat ini telah mereka duduki. Selain itu, keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO juga akan dikeluarkan dari pembahasan, meskipun setiap kesepakatan tetap harus mencakup jaminan keamanan bagi Kyiv agar perjanjian dapat dipertahankan, kata sumber yang terlibat dalam negosiasi.
Presiden Rusia Vladimir Putin mencaplok Krimea pada 2014 dan menggelar referendum untuk melegitimasi pengambilalihan tersebut oleh Kremlin. AS dan Uni Eropa merespons dengan menjatuhkan sanksi, dan hingga kini, pencaplokan tersebut belum mendapat pengakuan dari komunitas internasional. Jika AS memutuskan untuk mengakui pendudukan Rusia atas Krimea, langkah itu dinilai dapat melemahkan tatanan internasional pasca-Perang Dunia II yang menentang pengambilalihan wilayah suatu negara dengan kekuatan militer.
Zelenskiy secara konsisten menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menyerahkan wilayahnya kepada Rusia.
"Ada peluang yang sangat besar" bahwa Ukraina dan Rusia dapat mencapai kesepakatan pekan ini, kata Trump kepada para wartawan di Gedung Putih pada Senin. Ia menambahkan bahwa pertemuan-pertemuan yang telah digelar mengenai Rusia dan Ukraina berlangsung dengan baik.
Trump sebelumnya berjanji selama kampanye presidennya bahwa ia akan mengakhiri perang dengan cepat bila kembali menjabat. Pada Jumat lalu, ia memberi sinyal bahwa AS mungkin akan menghentikan upaya perdamaian jika tidak ada kesepakatan yang bisa dicapai dalam waktu dekat untuk menghentikan invasi Rusia yang dimulai pada Februari 2022. Meski tidak menyebutkan batas waktu, Rubio mengatakan Washington harus melihat dalam "hitungan hari" apakah kesepakatan dapat diwujudkan dalam jangka pendek.
Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin menyatakan telah melanjutkan operasi militer setelah jeda 30 jam yang diumumkan Putin untuk merayakan Paskah. Zelenskiy menyebut jeda singkat itu sebagai aksi publisitas Kremlin dan mendesak Rusia untuk memperpanjang gencatan senjata menjadi 30 hari sebagai langkah awal menuju perdamaian.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada Senin, Putin menyatakan bersedia mempertimbangkan proposal dari Kyiv untuk menghindari serangan terhadap target sipil dan membuka kemungkinan perundingan bilateral dengan Ukraina terkait isu tersebut.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya menyambut baik sikap pemerintahan Trump yang menolak keanggotaan Ukraina dalam aliansi militer NATO. "Tentu saja, kami senang dengan hal ini," ujarnya.
Kedua belah pihak saling menuduh telah melanggar moratorium 30 hari terhadap serangan ke infrastruktur energi, yang menurut Rusia telah berakhir pada Jumat lalu. Rusia menegaskan hanya akan menerima usulan gencatan senjata di Laut Hitam — hasil pembicaraan yang dipimpin AS di Arab Saudi bulan lalu — jika terdapat konsesi untuk pelonggaran sanksi terhadap salah satu bank negara utama Rusia. Sementara itu, Ukraina menyatakan mendukung gencatan senjata tersebut tanpa syarat.
Putin telah menegaskan bahwa ia tidak akan menyetujui gencatan senjata sepenuhnya sebelum ada kemajuan dalam perjanjian perdamaian akhir yang sesuai dengan tuntutan perang Rusia.
(bbn)





























